“Dengan luasan laut nan potensial inilah menjadi daya dorong pemerintah menempatkan sub sector kelautan dan perikanan sebagai sector unggulan di dalam Rencana Program Jangka Menengah Daerah (RPJMD),”kata Paulus Leris Bangkur, Sekretaris Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sikka.
Keunggulan lainnya, lanjut Bangkur, berkaitan dengan kapasitas nelayan berupa sumber daya nelayan itu sendiri, sarana prasarana baik disediakan dari investasi maupun bantuan dari dinas perikanan, nelayan Kabupaten Sikka urutan pertama untuk seluruh nelayan se-Provinsi NTT.
Berikut, dari nelayan Kabupaten Sikka-lah yang mensupport konsumsi ikan dan mensuplay ikan ke seluruh masyarakat Flores . Dan sumbangan terhadap PDRB Kabupaten Sikka sebesar 8-9 persen. Dan keunggulan keempat, bahwa dari 21 kecamatan dan 147 desa dan 13 kelurahan di Kabupaten Sikka, 16 kecamatan disebut ‘kecamatan pesisir’. Dari jumlah kecamatan tersebut ada 66 desa/kelurahan adalah ‘desa/keluahan pesisir’.
Bangkur kepada citra-news.com Kamis, 17 Mei 2018 di sela-sela pertemuannya dengan para kepala desa/lurah pesisir bersama NGO /LSM Wahana Tani Mandiri (WTM) dan Oxfam, mengatakan dengan keunggulan-keunggulan yang ada tentunya terjadi peningkatan nilai pemasaran produk perikanan di Kabupaten Sikka dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan.
Faktanya, data dinas kesehatan menunjukkan pada tahun 2017 masuk Standar Nasional. Konsumsi Ikan. Dengan angka diatas rata-rata nasional sebesar 43 kilogram perkapita pertahun. Semenatara untuk Kabupaten Sikka sebesar 49 kilogram perkapita pertahun.
“Ini berarti secara tidak langsung memberikan dampak bagi sector lain. Seperti sector kesehatan, kuliner, pnyapan tenaga kerja, seta berumbuhsuburnya pedagang ikan. Termasuk papalele ikan di Kabupaten Sikka,”jelas Bangkur.
