BPS NTT Menakar Laju Ekonomi di Hari Raya

Agar tidak dikatai data abal-abal alias tidak jelas, adakah data riil BPS NTT terkait indeks perkembangan harga serta gerak laju pertumbuhan ekonomi NTT. Pasalnya, beberapa waktu lalu Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat mengatakan untuk mengetahui secara persis pertumbuhan ekonomi diperlukan data valid. Bukan data abal-abal. Astaga….!!

Kupang, citra-news.com – HAMPIR pasti semua harga barang terutama sembilan bahan pokok (Sembako) dan barang grosir lainnya melonjak drastis di hari raya keagamaan. Terutama Hari Raya Idhul Fitri, sudah menjadi hal lazim kalau harga barang pasti naik di pasaran. Lalu apa keberpihakan pemerintah terhadap konsumen?

Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur (BPS NTT), MARITJE Pattiwaelapia, meminta Tim Satgas dan Tim Pengendali Inflasi daerah (TPID) dapat melakukan pengawasan dan mewaspadai lonjakan bahan makanan yang dapat memicu inflasi di Provinsi NTT. Apalagi menjelang puasa dan hari raya lebaran (Idhul Fitri).

Dalam meng-input BPS Maritje menyebutkan, data terkait IHK (indeks harga konsumen) atau inflasi NTT dan Nilai Tukar Petani (NTP) pada April 2019. Berikut, Eksport dan Impor NTT dan Pariwisata dan Transportasi NTT pada bulan Maret 2019. Dan data tentang Pertumbuhan Produksi Industri Manufakture Besar Sedang, Kecil dan Mikro NTT tahun 2019.

Mengutip press release yang ditulis Valerius (Very) Guru, staf Biro Humas dan Protokol Setda Prov NTT, Maritje dalam temu pers membeberkan jelang puasa dan lebaran, secara nasional inflasi April 2019 sebesar 0,44% (persen).

“Untuk Inflasi tahun kalender sebesar 0,80%; Inflasi tahun ke tahun sebesar 2,83%. Sedangkan Inflasi tertinggi ada di Medan sebesar 1,30% dan Inflasi terendah di Pare Pare yakni sebesar 0,03%. Sementara Deflasi tertinggi di Manado sebesar 1,27% dan deflasi terendah ada di Maumere,”ucap Maritje di hadapan awak media di Kantor BPS NTT, di bilangan Jalan R. Suprapto Nomor 5 Oebobo Kota Kupang, Timor NTT, Kamis 02 Mei 2019.

Secara rinci terkait IHK, NTP, dan beberapa hal lain seperti disebutkan diatas, lebih jauh Maritje menjelaskan, pada April 2019 kota-kota di NTT mengalami Inflasi sebesar 0,51%. Dengan IHK sebesar 134,58%.

Untuk Kota Kupang, Maritje yang didampingi Kabid Statistik Produksi, Sofia dan Kabid Statistik Distribusi, Demance M. Sabuna, mengatakan Kota Kupang mengalami Inflasi sebesar 0,58%. Sedangkan Maumere (Ibukota Kabupaten Sikka) mengalami Deflasi sebesar 0,04%.

Inflasi NTT terjadi karena adanya Kenaikan Indeks Harga pada 5 (lima) kelompok pengeluaran. Dimana kelompok bahan makanan mengalami kenaikan 1,50% dan transport sebesar 0,75%. Sedangkan kelompok perumahan dan sandang mengalami penurunan indeks harga (Deflasi) sebesar 0,03% dan 0.04%.

Terkait jumlah yang menginap untuk wisatawan mancanegara (Wisman) dan wiisatawan domestik (Wisdom), sebut Maritje, ada 2.342 wisatawan mancanegara dan 27.776 wisatawan domestic. Sedangkan terkait ekspor Maritje menilai sangat bagus untuk dapat meningkatkan ekonomi masyarakat dan daerah NTT.

Ketergantungan Barang Impor Masih Tinggi

Terkait barang impor, Maritje mengakui kita masih tinggi ketergantungan terhadap impor. Baik melalui negara Malaysia maupn Timor Leste. Guna meminimalisir terjadinya inflasi diharapkan ketersediaan bahan pangan harus tercukupkan di masyarakat. Dengan begitu bisa menekan laju inflasi yang terus beranjak naik dari waktu ke waktu.

Adalah fakta pantauan citra-news.com di Pasar Inpres (Paris) Naikoten Kota Kupang, Timor NTT, harga bawang saja naik begitu drastis. Harga bawang merah pada triwulan pertama tahun 2019 Rp 5.000 per kaleng susu (takaran 370 gram), sejak minggu kedua April 2019 sudah seharga Rp 15.000. Atau bawang putih Bombay yang sebelumnya 3 siung seharga Rp 5.000, sekarang naik harga menjadi Rp 10-12.500 (tergantung besar kecilnya umbi bawang). Demikian juga harga buah dan sayur-sayuran.

“Adu itu dong su  (mereka sudah) mau lebaran begini semua harga barang naik. Ama (panggilan akrab untuk laki-laki ‘orang Sabu’) mau cari ini keliling pasar ju sonde bisa dapa lai (juga tidak bisa dapat lagi). Sekarang bawang su (sudah) mahal, apalai (apalagi) bawang putih. Ini baru harga bawang dan sayur mayur, harga barang semua su pada naik ama,”ucap seorang papalele yang mengaku bernama Minggus, Kamis, 02 Mei 2019.

Demikian juga harga bahan pangan sembako (sembilan bahan pokok) seperti beras, minyak goreng, gula pasir dan barang grosir lainnya. Dan sudah lazim kalau harga Sembako, harga daging, dan sayur mayur terus melonjak tajam jelang puasa terutama hari raya Idul Fitri.

Diketahui, saat ini pihak Badan Usaha Logistik Divisi Regional (Bulog Divre) Kupang NTT, menggelar Pasar Murah.  Area ‘buka lapak’ itu tepat di trotoar depan Kantor Bulog Divre Kupang di bilangan Jalan Palapa Oebobo Kota Kupang, Timor. Bahan pangan yang digelar adalah Sembako diantaranya beras, gula pasir, tepung dan minyak goreng. Walupun harganya tidak jauh berbeda dengan harga dipasaran namun warga masyarakat berbondong datang berbelanja Sembako.

“Bahan makanan kalau beli disini harganya sedikit lebih murah dari harga pasar. Satu kilo beras seharga Rp 9.000 sampai Rp 10.000 untuk beras berkualitas baik. Tapi kita harus cepat datang tepat waktu. Kalau kita terlambat orang sudah beli semua beras yang ada. Satu orang bisa muat beras di pick up 5-10 karung. Padahal sesungguhnya satu pemilik tapi yang datang beli orang yang berbeda-beda. Lalu petugas mau tangkap bagaimana,”ucap sumber yang meminta namanya tidak dipublikasi.

Pria yang ditemui citra-news.com berseragam Satpam itu mengakui, dirinya selalu mengawasi setiap pembeli yang datang. Biasanya datang membeli barang, kata dia, menggunakan sepeda motor. Kemudian mengantar barang yang dibeli ke mobil pick up yang berlabuh di belakang warung yang letaknya tidak jauh dari Kantor Bulog Divre NTT. Tugas kami hanya menjaga pengamanan di seputar lapak saja. Kalau bahan makanan yang sudah dibeli dan keluar area sudah urusan konsumen. Dan itu bukan kewenangan kami lagi,tandasnya. +++ marthen-cnc/very-humasntt

Gambar : Maritje Pattiwailapia, di Kantor BPS Kupang ,Timor Provinsi Nusa Tenggara Timur.

 

 

Foto : Doc. CNC/BPS NTT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *