“Material lokal seperti kayu usuk dan tiang serta batu pasir sudah terkumpul. Material kayu yang disiapkan adalah kayu berkualitas seperti cemara hutan dan ampupu. Namun kayu-kayu tersebut tidak dipakai lagi dan digantikan dengan kayu mahoni, yang menurut kami kualitasnya sangat diragukan,”jelas Anin.
Konsultan Pengawas Tidak Turun ke Lokasi
BERNARD OLLIN, selaku konsultan pengawas tidak pernah turun ke lapangan. Sejak awal peletakan batu pertama, beber Anin, konsultan pengawas tidak pernah turun ke lapangan. Konsultan pengawas tidak menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik sehingga proses pekerjaan fisik amburadul.
Kondisi terakhir Proyek pembangunan Cottage dan Restauran di Destinasi Wisata Alam Fatumnasi Kabupaten TTS Provinsi NTT. Doc.CNC/jor tefa-Citra News.
“Mendengar informasi kalau tidak ada pekerjaan di lokasi proyek maka bberapa hari kemarin Dinas Parekraf Provinsi NTT dan Dinas Pariwisata Kabupaten TTS mengganti Bernar Ollin. Dan mengangkat konsultan pengawas yang baru bernama ONI Tapatab,”sebut Anin.
Soal dana proyek tersebut, menurut Anin, sudah dilakukan pencairan tahap I dengan nilai Rp 312 juta. Semuanya sudah terpakai untuk beli material bangunan, malahan kurang. Sehingga kami sepakatuntuk meminjam uang dari dana Pembangunan Kampung Adat senilai Rp 60 juta. Itu berarti total dana sudah mencapai Rp 372 juta.
