Strategi Pembelajaran ala SMK di Pusaran Covid-19 (bagian-2)

SEMI Ndolu, S.Pd (kiri) dan LINUS Lusi Making, S.Pd,M.Pd (kanan) saat pengukuhan Badan pengurus MKKS SMK Se-Kota Kupang periode 2020–2024 di bilangan Kayu Putih Kota Kupang, Timor NTT,  Minggu 16 Agustus 2020. Doc. citra-news.com/smkn4 kupang.

Semi Ndolu : “Saya mengutip pernyataan pak Linus Lusi bahwa ukuran keberhasilan SMK itu, seratus persen  siswa terserap di dunia usaha dan dunia  industri (Dudi). Pernyataan pak Linus ini menjadi spirit sekaligus memacu kinerja para kepala SMK untuk terus berkreasi dan berinovasi….”

Citra-News.Com, KUPANG – PERNYATAAN KEPALA Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Timur ( Kadis P dan K Prov.NTT), LINUS Lusi Making, S.Pd., M.Pd  bahwa ukuran keberhasilan bagi sekolah menengah kejuruan (SMK) itu, seratus persen  siswa terserap di dunia usaha dan dunia industri (Dudi).

Pernyataan lugas sang Kadis P dan K Prov. NTT ini seolah memantik kinerja para kepala SMK untuk terus berkreasi dan berinovasi. Meski harus menghadapi suasana sulit pandemi Covid-19 seperti  dialami masyarakat saat ini.

Demikian Kepala Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 4 Kota Kupang Provinsi NTT, SEMI Ndolu, S.Pd di Kupang Sabtu pekan lalu.

Menurut Semi, sudah setahun berjalan dunia pendidikan di Indonesia mengalami tekanan berat. Suasana pembelajaran tatap muka tidak terjadi. Menjawab kebutuhan belajar siswa pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Nasional memberlakukan metode pendekatan pembelajaran dalam jaringan (Daring). Juga diterapkan juga pembelajaran luar jaringan (Luring) jika kondisinya tidak memungkinkan.

Dijelaskan Semi yang juga Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMK se-Kota Kupang ini, model pembelajaran Daring dan Luring untuk SMK terus  giat dilaksanakan. Walau demikian hemat saya (Semi Ndolu, red) tidak efektif bagi lembaga pendidikan SMK. Maka para kepala sekolah menerapkan strategi pembelajaran sesuai dengan kondisi sekolahnya. Karena SMK lebih banyak jam prakering tinimbang teori, sehingga menerapkan pembelajaran Luring. Namun tetap mentaati protokol kesehatan (Prokes).

“Hemat saya siswa yang belajar di SMK tentunya berharap memiliki kompetensi keahlian tertentu. Dan itu adalah arah pendidikan di SMK dalam mana menghasilkan output yang memiliki kompetensi dan keahlian tertentu sebagai bekal menuju kehidupan mereka di hari esok. Dengan kondisi pandemi Covi-19 ini bagi kami di SMK adalah tantangan. Akan tetapi sekaligus juga menjadi peluang bagi guru dan kepala sekolah berkreasi dan berinovasi,”tandasnya.

Sembari menambahkan apa dan bagaimana bentuk kreativitas dan inovasi yang dilakukan para kepala SMK, Semi mempersilahkan awak citra-news.com mengelaborasinya di masing-masing SMK. “Silahkan wawancara para kepala sekolah. Karena setiap SMK punya kompetensi (kejuruan,red) masing-masing,”tegas Semi.

Jelang menghadapi  ujian akhir sekolah, Semi berharap pihak sekolah mempersiapkan segala sesuatunya secara baik. Terutama fasilitas dan sarana an prasarana (Sarpras) pakering siswa. Ini penting, tegas dia, karena para lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) selain mengantongi ijazah juga Sertifikat Kompetensi (SK).

“Hemat saya prasyarat terbitnya sertifikasi kompetensi adalah melalui ujian kompetensi keahlian (UKK). Dengan siswa memiliki SK itu berarti juga pihak sekolah sudah mampu mempersiapkan tenaga kerja siap pakai sesuai tuntutan zaman,”ucap Semi.

UN Berubah Jadi AN

Seiring dengan persiapan ujian akhir sekolah, secara nasional diberlakukan pendekatan pembelajaran berbasis Asesment Kompetensi Minimum. Meskipun pelaksanaan Ujian Nasional (UN) ditiadakan namun sebagai penggantinya adalah Asesment Nasional (AN).

Dijelaskan Semi, saat ini mulai disusun modul dan hal-hal teknis terkait pelaksanaan AN di setiap lembaga pendidikan untuk semua tingkatan. Secara umum AN adalah hal baru bagi lembaga pendidikan di semua tingkatan. Dari pendidikan dasar (sekolah dasar/SD) hingga pendidikan menengah di SMP dan SMA/SMK.

“Teknis pelaksanaan AN atau kita mengenalnya sebagai Assesment Kompetensi Minimum (AKM) dengan metoda penilaian melalui survey karakter dan survey lingkungan belajar. Untuk tingkatan SMA/SMK tentunya menerapkannya pada kelas XI. Pada tingkat SMP di kelas VIII dan SD di kelas IV. Untuk SMK khususnya kami di SMKN 4 Kupang sudah mulai diterapkan. Akan tetapi ada beberapa hal yang membutuhklan penyesuaian-penyesuaian,”aku Semi.

Dalam kaitannya dengan ukuran mutu, menurut Semi, ada hal yang berbeda antara UN dan AN. Kalau ujian nasional (UN) berpatok pada berapa besar nilai atau angka yang dicapai siswa saat ujian. Sementara AN yang dinilai adalah proses yang dilalui melalui tahapan survey karakter dan survei lingkungan belajar siswa.

“Hasil akhir untuk menentukan mutu pendidikan sistem AN ukurannya bukan seberapa tinggi angka yang diraih siswa dalam ujian. Akan tetapi seberapa mampunya siswa menyelesaikan proses pembelajaran itu secara baik. Literasi dan numerasi itulah aspek pokok penilaian AN. Dan penilaiannya bukan orang perorangan seperti lasimnya UN tetapi atasnama lembaga,”jelas Semi.

Menjawab pihak-pihak yang terlibat dalam penilaian AN, sebut Semi, selain siswa adalah guru-guru juga kepala sekolah. Melalui survey lingkungan belajar para guru dan kepala sekolah terlibat dalam port folio penilaian itu.

Berkaitan dengan survey lingkungan belajar, lanjut Semi, tidak terlepas menyangkut fasilitas dan sarana prasarana (Sarpras) pendukung yang dimiliki sekolah. Juga metodologi belajar yang diterapkan guru bagi peserta didik. Kesemua penilaian tersebut sebagai assesment kompetensai minimum (AKM) dalam mana ada 8 (delapan) standar yang berbaur di dalamnya.

“Untuk penerapan AKM ini menyangkut Sarpras adalah sesuatu yang wajib ada bagi SMK. Karena dari peralatan praktikum yang memadai menjadi faktor pendukung mutu lulusan dan inikator akan tuntutan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri (Dudi),”tegas dia.

Terkait pentingnya Sarpras untuk kebutuhan penilaian AKM, menurut Semi, SMKN 4 Kupang memiliki program dual system. Dan teknologi terapan pebelajaran yang digunakan adalah teaching factory.

“Untuk mengatasi minimnya Sarpras atau peralatan di Komli (kompetensi keahlian) tertentu, ada Komli lainnya menopang. Jadi bukan one man one product.  But collaboratif sehingga yang kita jual keluar bukan produk ini dibuat oleh siswa siapa. Akan tetapi produk ini, contohnya ukir, oh ini dari SMKN 4 Kupang,”imbuh dia.

Soal SMK Plus, Semi mengakui SMKN 4 Kupang salah satu sasaran program besutan pemerintah Provinsi NTT. (bersambungi) +++ marthen radja/citra-news.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *