Iklan Baris :
Ingin Pasang Iklan, Klik disini - Ingin Koreksi, Klik Teks ini

RANGKUL Masyarakat Ikut TERLIBAT Dalam Pengelolaan KAWASAN Konservasi

CitraNews

Kika :Sekda NTT, BEN Polo Maing, Sekjen KSDAE, Suharyono, Anggota DPR RI Ny JULIE Sutrisno Laiskodat menekan tombol serempak pertanda dibukanya acara Puncak Peringatan HKAN 2021di Kawasan Pantai Lasiana Kota Kupang. Senin 22 November 2021. Doc. marthen radja/citra-news.com

Wiratno : “Ada 9,5 juta orang hidup dari Kawasan Konservasi Alam Nusantara. Saya mengajak kepada seluruh pengelola kawasan konservasi yang hari ini hadir agar merangkul masyarakat …”

Citra-News.Com, KUPANG – DIREKTUR JENDERAL Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistim (Dirjen KSDAE) , Ir. WIRATNO, M.Sc mengatakan, pada umumnya masyarakat di sekitar kawasan konservsi bekerja pada sektor pertanian, sektor pariwisata alam baik jasa maupun non jasa, dan mayoritas menggantungkan hidupnya kepada kawasan konservasi dengan memanfaatkan sumber daya alam yang ada.

Baca Juga :  DIREKTUR KREDIT Bank NTT Raih Penghargan THE NEXT TOP LEADER 2022

Demikian sambutan Dirjen Wiratno yang dibacakan Sekretariis Jenderal KSDAE, Suharyono, pada Pembukaan Hari Konservasi Almam Nasionla Tahun 2021di Pantai Lasiana Kawasan Taman Wisata Alam Laut (TWAL) Teluk Kupang, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Provinsi Nusa Tenggara Timur (BBKSDA NTT), Senin 22. November 2021.

Setidaknya terdapat 6.831desa yang berbatasan dengan kawasan konservasi atau equivalen dengan sekitar 9,5 juta orang menggantungkan kehidupan sosial ekonomi budayanya pada kawasan konservasi. Dan hidup dalam keterbatasan atau tertinggal. Saya mengajak seluruh pengelola kawasan konservasi yang hadir hari ini, untuk merangkul masyarakat, memberikan akses serta prioritas kepada masyarakat sekitar kawasan untuk ikut terlibat dalam pengelolaan kawasan. Serta memberikan pelatihan dan pendampingan secara berkelanjutan.

Baca Juga :  Urusan PPKM, Begini Instruksi Mendagri TITO Karnavian

Pandemi Covid-19 yang terjadi di berbagai tempat di dunia tidak pelak telah memukul berbagai sektor baik ekonomi, pendidikan, bisnis, transportasi, tidak terkecuali kegiatan pariwisata alam dan kebudayaan di kawasan konservasi dan sekitarnya.

Namun demikian tidak melunturkan semangat para pegiat di kawasan konservasi. Bahwa dalam pemanfaatan jasa lingkungan oleh masyarakat sekitar kawasan telah berlangsung turun temurun, baik untuk kegiatan komersial maupun kebutuhan sehari-hari.

Baca Juga :  Marak PENCURIAN Kayu JATI Kawasan Hutan BIPOLO, Ini Reaksi BBKSDA

Produk jasa lingkungan yang tidak lepas dari dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar kawasan konservasi setidaknya meliputi air, sumber makanan, tumbuhan obat, sumber bahan bakar, dan keindahan bentang alam.

Pengelolaan jasa lingkungan, contohnya wisata alam di kawasan konservasi, pada beberapa tempat telah terbukti memberikan multiplier effects yang cukup besar, baik bagi masyarakat maupun pemerintah. Meskipun adanya penurunan PNBP bidang pariwisata alam akibat pandemi Covid-19 selama tahun 2020 menjadi sebesar Rp. 53, 81 M atau turun 68,5% dari tahun 2019 atau sebesar Rp. 171,18 M.