Iklan Baris :
Ingin Pasang Iklan, Klik disini - Ingin Koreksi, Klik Teks ini

Bank Indonesia DORONG Bank NTT Terus Berinovasi

CitraNews

Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat belanja di Pasar  Digital Bobou pakai QRIS Bank NTT.  Doc. citra-news.com/humas bankntt

Ariawan: “…Bank Indonesia terus mendorong seluruh PJP, termasuk Bank NTT untuk…”

Citra News.Com, BAJAWA – KEPALA Bank Indonesia Perwakilan Nusa Tenggara Timur (NTT), I Nyoman Ariawan Atmaja mengapresiasi kinerja Bank NTT atas berbagai inovasi yang dilakukan saat ini. Khususnya pengembangan layanan digitaliasi pembayaran nontunai.

Hal itu diungkapkan Ariawan, saat kegiatan Launching Pasar Digital Bobou, Bajawa, Kabupaten Ngada, Sabtu 16 April 2022.

Baca Juga :  MERAJUT Diplomasi POLITIK Kesejahteraan NTT Ala Bunda JULIE Laiskodat

Dalam sambutannya, Ariawan menyatakan terima kasih kepada Bank NTT yang sudah melakukan berbagai terobosan baru.

“Bank Indonesia terus mendorong seluruh Penyedia Jasa Pembayaran (PJP), termasuk Bank NTT untuk terus beradaptasi dengan perkembangan zaman. Untuk itu, pasar tradisional harus terus didorong untuk menjadi pasar digital,” tuturnya.

Kepala BI Perwakilan NTT,  I Nyoman Ariawan Atmaja. Doc. citra-news com/berbagai sumber.

Kami (Bank Indonesia, red) tentunya sangat mendukung program ini. Karena ada dua tujuan, yaitu bagaimana bertransaksi antar pedagang dengan pembeli secara digital. Seperti yang terlihat hari ini di Pasar Bobou. Dimana seluruh pedagang di Pasar Bobou sudah menggunakan Qris (Quickly Responsif Indonesia Service), salah satu produk layanan Bank NTT sistem digital.

Baca Juga :  PENGHARGAAN, Cambuk Bagi BANK NTT Untuk Melayani LEBIH Sungguh

Begitu juga pembayaran retribusinya, lanjut dia. Semuanya saat ini sudah menggunakan layanan digitalisasi. Sehingga semuanya bisa transparan, akuntabel, dan bisa setiap hari dicek berapa saldonya.

Baca Juga :  Hasil RISET Kinerja Keuangan Bank NTT Berpredikat TERBAIK di Indonesia

Menurut Ariawan, dengan pengalaman di daerah lain, dimana layanan QR atau model pembayaran nontunai ini, telah berdampak sangat luar biasa pada kenaikan pendapatan asli daerah (PAD). Rata-rata pendapatan (pemasukan untuk untuk daerah, red) antara 30 sampai dengan 70 persen.