INI Hal BARU Dari DEKRANASDA NTT Bikin ADPRD Komisi II TERCENGANG

Ketua Dekranasda Provinsi NTT, JULIE Sutrisno Laiskodat (ke-2 dri kiri) memperkenalkan penenun Kain Bolong-bolong ukuran destar kepada ADPRD NTT Komisi II di showroom gedung Dekranasda NTT Jl. Soedirman Kota Kupang, Jumat 12 Agustus 2022. Doc. marthen radja/citra-news.com

Julie Laiskodat : Komisi II kami minta untuk menjebatani kami dengan Badan Anggaran (Banggar) DPRD Provinsi NTT.

Citra News.Com, KUPANG – KETUA Dewan Kerajinan Nasional Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur (Dekranasda NTT), JULIE Sutrisno Laiskodat mengatakan, sudah terdaftar ada 737 motif kain tenun ikat di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

“Di Provinsi NTT terdaftar ada 737 motif kain tenun yang ada di semua kabupaten/kota SE-NTT. Dan dari semua motif ini ada kami pajang di toko Dekranasda ini. Masih ada banyak lagi motif-motif baru yang saat ini sedang disusuri tim Dekranasda NTT. Semua motif wajib didaftar agar tidak mudah diprinting (ditiru, red) oleh orang luar. Karena ini menyangkut Hak Paten yang kita punya,” jelas bunda Julie saat menerima kunjungan Komisi II DPRD NTT ke Dekranasda NTT, Kupang, Jumat 12 Agustus 2022.

Bunda Julie mengatakan, kegiatan yang dilaksanakan Dekranasda adalah bagian dari salah satu bidang dari Dinas Perindag Provinsi NTT.

“Di sektor usaha mikro kecil dan menengah, tenun ikat misalnya, Dekranasda NTT bergerak dari hulu sampai ke hilir, “tegasnya.

Lebih lanjut bunda Julie mengatakan, generasi sekarang kurang ada minat untuk jadi penenun. Oleh karena itu Dekranasda mencari cara agar kebiasaan tenun yang menjadi warisan leluhur ini tidak boleh hilang. Sehingga kepada siswa yang tidak bisa melanjutkan sekolah, atu uang putus sekolah kami akomodir untuk dilatih jadi penenun.

Untuk menghasilkan kain tenun tentunya membutuhkan fasilitas dan sarana prasarana. Dari pengadaan alat tenun, benang, pendampingan tetkait kualitas, hingga akses pasar. Juga afa pelatihan-pelatihan peningkatan kapasitas.

“Semua kegiatan ini tentunya butuh dukungan pendanaan. Bagi kami ada tidaknya anggaran kami harus jalani. Hasilnya dua tahun bertutut-turut kita sumbang point tertinggi lomba Dekransda di tingkat nasional,” tuturnya.

Pada kesempatan itu bunda Julie juga menjelaskan, pada tahun 2020 Dekraasda NTT dianggarkan Rp7,5 miliar, tapi semua dikasih. Dan kami setor 5 persen dari omzet (penjualan). Tahun 2021 setor hampir 100 juta.

“Sementara tahun 2022 kita ajukan 10 miliar, entah bagaimana realisasi itu urusan nanti. Tapi yang pasti program ini harus jalan. Karena itu Komisi II kami minta untuk menjebatani kami dengan Banggar di DPRD NTT,” harap anggota DPR RI ini.

Pantauan awak citra-news.com sejumlah anggota dewan yang terhormat,dipimpin Kasimirus Kolo ini tampak terkagum-kagum.

“Kali ini saya sudah dua kalinya datang kesini. Keadaanya sudah jauh berbeda dengan yang kali lalu saya lihat. Semua produk UMKM lengkap ada disini. Ini luar biasa dan dalam politik anggaran perlu kita dukung, “ucap Maria Nuban Saku.

Anggota Komisi II Reny  Marlina Un (kiri) dan Maria Nuban Saku (kanan) pose bersama Kepala Dinas Perindag Prov. NTT, Nazir Abdullah. Doc. marthen radja/citra-news.com

Sementara Johanis Rumat mengatakan, kehadiran Komisi II di Dekranasda NTT untuk melihat dari dekat bagaimana perkembangannya. Karena hampir setiap tahun ada alokasi dana hibah ke Dinas Perindag NTT untuk Dekranasda.

“Menurut aturannya kan tidak boleh. Bahwa syaratnya untuk dana hibah hanya satu kali saja untuk lembaga usaha yang sama,” kata Hans Rumat.

Namun apa yang dikemukakan Hans Rumat itu, menurut Ketua Komisi II Kasimirus Kolo akan dibicarakan secara intenal komisi.

Kasimirus mengatakan, apa yang dikerjakan oleh Dekranasda telah mendukung pendapatan atau sumber baru PAD bagi Dinas Perindag Provinsi NTT.

Bahwa kegiatan Dekranasda, tambah Kasimirus, merupakan salah satu bidang di Dinas Perindag Provnsi NTT. Dan dianggarkan melalui APBD Provinsi.

Berbeda pendapat dengan Hans Rumat. Adalah Gabriel Manek, mantan Bupati Timor Tengan Utara ini malah meminta Banggar DPRD NTT untuk mengalokir sejumlah biaya dari APBD untuk operasional Dekranasda.

“Kita bisa lihat sendiri hasil kerja nyata dari Dekranasda NTT. Kita sudah mendengar penjelasan bahwa ada terobosan-terobosan yang dilakukan ibu Julie Laiskodat. Dalam hal pemberdayaan ekonomi melalui tenun ikat dan UMKM lainnya. Dan hasilnya luar biasa. Ada hal-hal baru yang dilakukan Dekranasda dan baru hari ini kita tahu. Kami bersyukur Dinas Perindag NTT melalui Dekranasda, ada pendapatan yangbbisa disumbangkan untuk peningkatan PAD,” kata Manek.

Kain Tenun Bolong-bolong

Hal baru yang dilihat oleh Komisi II adalah saat menyaksikan ibu Marika sedang menenun kain bolong-bolong untuk destar (selendang).

“Luar biasa ini tenunan modelnya bolong-bolong. Kerjanya pasti rumit sampai menghasilkan kain tenun bolong-bolong seperti ini,” ungkap Gabriel Manek.

Sambil geleng-geleng kepala sesepuh dari Parti Golkar ini mengatakan ia baru pertama kali melihat penenun yang begitu trampil hingga bisa jadi Kain Bolong-bolong.

Hebatnya lagi para penenun di showroom Dekranasda NTT tidak hanya trampil menenun satu jenis kain tenun dari satu kabupaten saja. Akan tetapi satu orang penenun mampu menenun untuk beberapa jenis kain dan motif dari daerah manapun di NTT.

Ibu Marika (kanan) penenun serba bisa tidak terkecuali Kain Tenun Bolong-bolong. Doc. marthen radja/citra-news.com

“Saya bisa menenun banyak jenis dan motif dari daerah manapun. Secara umum di NTT ini hanya ada empat jenis kain tenun dengan ciri khas motif yang berbeda-beda dari setiap kabupatennya. Ada jenis kain tenun Buna, Ikat, Sotis, dan Songket. Dan untuk semua ukuran sesuai minat pasar,” jelas ibu Marika yang mengaku berasal dari Kapan Kabupaten Timor Tengah Selatan.

Mendengar pengakuan ibu Marika ini mendecak kagum para anggota dewan yang terhormat. Dari ekspresi mereka jelas menunjukkan kalau mereka baru tahu proses menenun kain bolong-bolong.

Gegara kain tenun bolong-bolong Komisi II bardiri berlama-lama sambil bertanya-tanya hal teknis ke ibu Marika. Rasa heran, kagum dan semacamnya  berbaursatu. Dan hampir pasti mereka tercengang akan terobosan-terobosan cerdas nan unik yang dilakukan Dekranasda NTT.

Ketua Komisi II DPRD NTT, Kasimirus Kolo mengatakan, pihaknya mendukung penuh gebrakan Dekransda NTT yang dipimpin Julie Sutrisno Laiskodat untuk mengekspos tenun ikat NTT dengan beragam motif dan jenis ke seluruh penjuru dunia.

“Memang selama ini kita banyak mengikuti perkembangan Dekranasda dari media massa. Wajar kalau masing-masing orang punya pemahaman yang berbeda tentang Dekranasda itu sendiri,” kata Kasimirus.

Bahwa dalam rapat-rapat anggaran di Komisi maupun Badan Anggaran,  lanjut dia, bisa saja berbeda dari cara menafsirnya tentang eksistensi dan posisi dekranasda itu seperti apa.

Hari ini kita berkunjung ke Dekranasda NTT supaya pimpinan bersama anggota komisi yang bermitra dengan dinas Perindag ini bisa melihat secara langsung, kondisi obyektif dari Dekranasda itu sendiri.

“Yang kami lihat hari ini, sangat luar biasa. Memang betul bahwa Dekranasda ini mendapatkan alokasi dana hibah dari Pemprov NTT. Tetapi ketika kita mencermati ternyata Ketua Dekranasda bersama seluruh perangkatnya betul-betul secara profesional menunjukkan kinerja yang luar biasa.

Anggota Komisi II Johanis Rumat (kanan) pose bersama Kepala Dinas Perindag Prov. NTT, Nazir Abdullah. Doc. marthen radja/citra-news.com

Terutama memanfaatkan anggaran yang diberikan untuk pemberdayaan para pelaku UMKM dari tenun ikat di seluruh NTT.

“Hasilnya bisa kita menyaksikan di Dekranasda ini. Dimana seluruh kabupaten memiliki stand dengan penampilan produk unggulan tenun ikat masing-masing daerah.

Dan pelaku UMKM itu adalah hasil binaan Dekranasda NTT. Ada banyak produk inovatif lain yang tumbuh dan berkembang di mana-mana. Karena ada intervensi bukan saja intervensi anggaran tetapi juga ada edukasi.

Dekranasda memberikan pelatihan-pelatihan pengolahan kuliner yang dilihat dari isi dan kemasan yang sangat luar biasa dan diekspor kemana-mana.

Begitupula tenun ikat hampir di seluruh indonesia orang menggunakan tenun ikat asal Nusa Tenggara Timur.

“Saya kira itu bukti gebrakan ibu Julie Laiskodat sebagai ketua Dekranasda bersama jajarannya mempromosikan produk-produk lokal seperti ini ke seluruh Indonesia,” pungkasnya. +++ marthen/citra-news.com

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.