JEMY Haning, Cs Selamatkan BAYI dari Amukan API di Area RSUD Naibonat.

Detik-detik kobaran api menjalar ke area RSUD Naibonat disaat yang sama Jemy Haning (bertopi) mendatangka truk Damkar siaga memdamkan api.  Doc.: citra-news.com/llustrasi

Nensy Neno: “…. yang kami takuti jangan sampai api merambat ke ruangan pasien.Terutama di kamar bayi. Makanya kami cepat-cepat evakuasi ke ruangan lain…”

Citra-News.Com, OELAMASI – MUSIM kemarau telah mendera jagat nusantara. Wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sudah menuju puncak musim kemarau dengan sengatan matahari yang cukup mendidih. Akibatnya rerumputan liar menjadi kering menuju gersang.

Bagi petani hal ini sangat mudahkan untuk membuka kebun. Apalagi didukung dengan pola lama sistem pertanian ‘tebas, bakar, tanam’ (TBT). Yang oleh beberapa daerah masih menggunakan pola TBT ini. Sebut saja di wilayah Timor sistem/pola pertanian TBT ini nyaris menjadi salah satu kebiasaan. Dimana-mana selalu saja terjadi kebakaran hebat yang disebabkan oleh api menjalar dari sumber TBT yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab.

Adalah fakta pada Senin 19 September 2022, lahan di seputaran area RSUD Naibonat hangus dilahap si jago merah.

Bahkan beberapa fasilitas dan sarana prasarana (Sarpras) milik rumah sakit nyaris terbakar jika saja KTU RSUD Naibonat, JEMY Haning, SH dan para pegawai Rumah Sakit tidak sigap memberikan pertolongan.

Karena letak lokasi kebakaran tepat bersebelahan dengan gedung rumah sakit maka percikan bunga api gampang menyeberangi batas tembok hingga menjilat rerumputan sekitar gedung Instalasi Gizi, Ruang Ponic (rawat inap pasien termasuk ruang bayi), dan gudang mesin Insenerator.

“Terutama Ruangan Ponic, ada banyak pasien termasuk ruang rawat bayi. Itu sangat dekat dengan lahan yang terbakar,” ungkap Jemy Habing saat ditemui awak citra-news.com di TKP, Senin kemarin.

Jemy mengaku, titik api dari arah barat gedung rumah sakit. Karena bersebelahan dengan gedung Ponic maka asap mengepul dan lidah api nyaris menjilat ruang yang berisikan sejumlah pasien termasuk bayi.

“Saat kejadian saya sementara rapat di Kantor Dinas PMD. Namun bunyi deringan telepon berulangkali dari petugas medis bahwa terjadi kebakaran. Dan saya dengar ada yang menangis-menangis teriak minta tolong. Iya saya dengan sopir langsung menuju TKP,-tempat kejadian perkara,” beber Jemy.

Kebakaran terjadi sekira pukul duabelas, sambung dia. Asap disertai titik api itu membuat pasien seisi gedung lari berhamburan keluar ruangan.

“Petugas medis saya konfirmasikan untuk segera mengevakuasi pasien. Terutama bayi segera dipindahkan ke ruangan yang nyaman. Saya juga minta petugas IPL matikan listrik dan amankan semua fasilitas secara manual. Saya telpon Kepala Badan Bencana juga sigap mengirim truk Damkar dan mobil tanki air. Sama-sama bergerak cepat padamkan api yang sudah merambat masuk halaman rumah sakit,” urai Jemy.

Jemy menyatakan, rumah sakit adalah institusi vital yang harus diprioritas untuk semua urusan. Karena berkaitan dengan penyelamatan nyawa manusia.

Untuk itu sebagai ‘pemilik rumah sakit’ kami harus sigap padamkan api. Karena merupakan tanggung jawab kami selaku Kepala Tata Usaha (KTU) RSUD Naibonat.

“Yang saya utamakan bayi baru lahir. Itu yang kami takuti jangan sampai api merambat ke ruangan pasien.Terutama di kamar bayi. Makanya bayi kami cepat-cepat evakuasi ke ruangan lain. Karena ada dua bayi yang belum berumur sebulan yang rentan dengan asap. Begitu pula ada pasien gawat darurat yang butuh penanganan intensif,” tuturnya.

Menjawab luasan area RSUD Naibonat, sebut Jemy, ada 24 Hekto Are (HA). Dari luasan ini semuanya tanah gembur. Artinya mudah ditumbuhi alang-alang dan rerumputan liar lainnya.

Oleh karena tanah gambur yang mudah serap air, lanjut Jemy, maka tumbuhan liar segera tumbuh. Sehingga walaupun dibersihkan tapi tetap saja tumbuh. Tapi karena musim kemarau maka mudah terbakar.

AMAN Dari Asap Api

Lebih jauh dia menjelaskan, rerumputan di sekitar area rumah sakit ini selalu dibersihkan setiap pekan.

Bayangkan dengan luasan 24 hektar, tegas Jemy. Dimana perbandingan tanah kosong lebih luas dari gedung, maka rumput cepat tumbuh. Sementara petugas kebersihan cuma sedikit orang.

“Itu letak masalahnya. Obyek yang ditangani lebih besar dari jumlah SDM yang tersedia. Apalagi dengan kondisi tanah gembur (mudah teresap air) membuat rumput tumbuh setiap saat. Sehingga terlihat sepertinya tidak terurus sanitasi dan kebersihan lingkungan rumah sakit.

Sementara, di sela-sela petugas sibuk dengan pengevakuasian pasien, NENSY Neno kepada wartawan menjelaskan, dalam evakuasi pasien kami dahulukan di ruangan bayi.

“Karena ada dua bayi yang baru lahir. Yang satu ini orangtuanya dari Amabi Oefeto. Dan bayi yang satunya punya orangtua dari Oesao. Ada yang berumur 9 hari dan bayi baru lahir,” terang Nensy.

Menjawab citra-news.com, soal upaya evakuasi pasien, di saat genting seperti terjadinya kebakaran, Nensy menjelaskan kondisi umum semua pasien aman. Artinya terhadap dampak ikutan akibat kebakaran ini belum ada. Terutama dua bayi baru lahir yang menjadi fokus pengevakuasian.

“Di ruang perawatan bayi kami ada 5 (lima) petugas jaga. Memang asap sangat berpengaruh pada bayi. Tapi kondisi dua bayi ini sampai sekarang aman. Dari hasil pemeriksaan kami, dari riwayat yang ada masih aman untuk ke depannya tidak ada masalah,”tegas Nensy.

Hanya saja, tambah Nensy, kami masih tunggu sampai asap tidak ada baru kami bisa masuk ruangan. Memang kami semua panik. Tapi setelah bapak KTU juga ikut bantu padamkan api, semuanya tidak jadi masalah.

Budidaya Kelor di Lahan Kosong

Secara terpisah, Jemy Haning di ruang kerjanya mengatakan, dengan melihat luasan lahan yang belum optimal dimanfaatkan. Maka ke depannya lahan kosong kita tanami Kelor.

“Daripada lahan dibiarkan kosong, saya upayakan agar ditanami kelor. Ini beberapa titik dua minggu lalu ksmi sudah bersihkan dengan cata bakar juga. Tapi ada tekniknya supaya api jangan menjalar kemana-mana,” kata Jemy.

Dari pengalaman menjadi guru yang baik bagi kita. Kalau pola pertanian TBT sudah setiap tahun terjadi. Dan rumah sakit selalu jadi sasaran empuk. Lantaran letaknya berdampingan dengan lahan milik warga.

“Jadi alternatif terbaik hemat saya adalah terhadap lahan-lahan kosong khususnya di area RSUD Naibonat akan kmi tanami kelor. Apalagi ini programny bapak Gubernur Viktor Laiskodat. Dan beragam manfaat kelor untuk kesehatan, temasuk mencegah stunting,”kata Jemy.

Untuk tujuan pembudidayaan tanaman kelor, tambah dia, dua minggu lalu kita tebas bakar beberapa titik lokasi. Tekniknya kita siapkan ilaran api, artinya kita bikin lorong-lorong.

Sehingga saat rumput dibakar dia tidak menjalar kemana-mana. Tidak lupa kita juga siapkan ada tiga unit mobil tanki air. Agar setelah rerumputan liar termakan api langsung disiram dengan air dari tanki-tanki yang ada.  +++ marthen/citra-news.com

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.