Iklan Baris :
Ingin Pasang Iklan, Klik disini - Ingin Koreksi, Klik Teks ini

JURNALISTIK dan Organisasi PROFESI (Bagian 2- Habis)

Reporter: Marthen RadjaEditor: Redaksi
CitraNews

Oleh : *) Maxi Biae Dae

Filsuf Francis Bakon mengatakan, dengan membaca orang mengetahui banyak hal, tetapi dengan menulis orang menjadi lebih kritis.

Citra News.Com, KUPANG – SATU-SATUNYA kualitas penting untuk kesukesan nyata dalam jurnalisme adalah licik seperti tikus, satu cara yang masuk akal dan sedikit kemampuan sastra.’ (‘the only qualities essential for real success in journalism are ratlike cunning, a plausible manner and a little)

H.L. Mencken, ikonoklas besar Baltimore, menganggap jurnalisme ‘keahlian yang harus dikuasai dalam empat hari dan ditinggalkan pada tanda pertama dari pekerjaan yang lebih baik.

Oleh karena itu, bukanlah perbandingan yang dibesar-besarkan di antara jurnalis, dokter, ilmuwan, dan pengacara.

Dalam situasi yang berubah dengan cepat, diperlukan kerja jurnalisitik yang dapat membangun kekuatan informasi bagi masyarakat.

Baca Juga :  GENCAR Menggelegar di Momentum SUMPAH PEMUDA

Untuk itu diperlukan prinsip-prinsip jurnalistik yang rebih realistis dan konstruktif dalam mengevaluasi program berita.

Prinsip yang relevan terdiri dari transparansi, perspektif, penilaian dan kewajaran. Prinsip-prinsip ini saya ambil dari buku Media Literacy yang ditulis Art Silverblatt, et all.

1.) Transparansi. Sudut pandang publikasi harus jelas. Sudut pandang reporter dan latar belakang serta motif narasumber memberikan kesempatan kepada audiens untuk menyaring informasi dan membentuk pendapat mereka sendiri tentang topik tersebut.

2.) Perspektif. Terkadang peristiwa itu tidak terkait dan konsekuensinya hanya terlihat seiring berjalannya waktu.

Oleh karena itu, jurnalis memiliki tanggung jawab untuk menempatkan peristiwa ini ke dalam konteks yang bermakna.

Baca Juga :  BUKAN Kue NATAL, Petani Besmarak Butuh BIBIT dan PUPUK (* Seri 3)

Namun pada saat yang sama, publik atau audiens memiliki tanggung jawab untuk mempertanyakan pernyataan tersebut untuk memastikan bahwa jurnalis menangani klain ini secara bertanggung jawab.

3. Penilaian. Jurnalisme adalah seni sekaligus kerajinan. Dalam hal ini reporter dan editor memberikan penilaian berita untuk memutuskan berita mana yang akan dimasukkan dan dikecualikan dan bagaimana cara meliput suatu isu.

Namun terkadang terjadia perbedaan pendapat di antara reporter yang berpengalaman, termasuk cara meliput berita.

4.) Kewajaran. Wartawan memahami kebenaran absolut sulit ditemukan, tetapi mereka memiliki tanggung jawab untuk mewakili semua sisi dari sebuah isu.

Oleh karena itu, Byron Calame, editor publik New York Times, menjelaskan bahwa tugas mendasar editor editor surat kabar adalah mendapatkan atau menangkap kedua sisi dari sebuah berita dan dan menjelaskannya kepada pembaca.

Baca Juga :  NOSTALGIA Politik Partai BERKARYA dan PDI Perjuangan

Sejumlah wartawan media massa saat Workshop Peningkatan Kemahiran Berbahasa: Penyegaran Kemahiran Berbahasa Bagi Wartawan Media Massa Se-Provinsi Nusa Tenggara Timur, di Kupang tanggal 11-14 April 2023. Doc. marthen radja/citra-news com

Inilah kunci untuk menciptakan surat kabar yang adil – baik untuk pembacanya maupun untuk orang-orang dan lembaga yang menjadi subjek berita atau menjadi sasarannya.

Mintalah umpan balik dari orang-orang dan institusi yang terlibat dalam cerita tersebut. Minta komentar dari orang-orang yang menulis tentang mereka, terutama ketika mereka digambarkan dengan cara yang tidak menyenangkan, adalah bagian yang sangat penting dari pelaporan yang adil.

Sumber: Maxi Biae Dae
Disclaimer: Artikel Ini Merupakan Kerja Sama CitraNews.Com Dengan Kantor Bahasa Provinsi NTT, UU Pers No.40 Tahun 1999. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Kantor Bahasa Provinsi NTT, UU Pers No.40 Tahun 1999.