“Kami juga meminta agar lingkungan yang terdampak banjir segera diperbaiki. Pemerintah kabupaten dan kota harus meningkatkan koordinasi untuk mengatasi dampak bencana ini,” ujar Andriko.
Meskipun belum ada laporan mengenai kejadian besar, pemerintah tetap bersiaga menghadapi potensi bencana yang bisa terjadi sewaktu-waktu.
Nenotek menambahkan, saat ini wilayah NTT sedang memasuki puncak musim hujan dengan curah hujan berintensitas tinggi. Fenomena La Niña yang terjadi memang lemah, tetapi ada penguatan fenomena atmosfer yang memperparah intensitas hujan.
“Kami perkirakan kondisi ini berlangsung hingga 3 Februari 2025, tetapi puncak musim hujan akan terus berlanjut sepanjang bulan Februari 2025,” ujarnya.
Dia menjelaskan saat ini terpantau aktifnya Minsun Asia, Fenomena La Nina Lemah, Madden Julian Oscilation (MJC), Sirkulasi Siklonik dan Gelombang Atmosfer, dan Eqatorial Rossby. Serta adanya daerah perlambatan kecepatan angin (Konvergensi) dari daerah pertemuan angin (Konfluensi) di sekitar wilayah NTT.
Akibat dari kondisi tersebut menyebabkan wilayah NTT berpotensi terjadi hujan sedang hingga sangat lebat, disertai petir dan angin kencang di seluruh wilayah NTT dalam sepekan ke depan.
Untuk itu dihimbau, pertama, kepada seluruh masyarakat agar tidak panik namun tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrim.
Kedua, wilayah dengan toografi yang curam/bergunung/tebing diharapkan lebih berwaspada terhadap dampak dari tanah longsor, banjir, banjir bandang, pohon tumbang, jalan licin, berkurangnya jarak pandang, dan sambaran petir.
