Namun sebelum masuk dapur, Gubernur dan juga rombongan terbatas mengenakan masker sebagai protap kebersihan. Kemudian masuk untuk mengecek secara langsung ke setiap ruangan dapur MBG.
Mulai dari ruangan pengolahan makanan, ruangan untuk mencuci bahan makanan dan peralatan makanan, ruangan sterilisasi makanan, ruangan box pendingin serta ruangan penyimpanan sample makanan.
Diketahui Dapur MBG yang terletak di bilangan Jl. Ahmad Yani, Kefamenanu Selatan ini dikelola oleh SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) Yabiku. Gubernur NTT mengapresiasi kebersihan dan aturan yang ketat dari dapur MBG tersebut.
“Hari ini sebagai Gubernur NTT saya melakukan kunjungan perdana di TTU. Setelah tadi saya mengunjungi RSUD, sekarang saya mengunjungi dan mengecek langsung SPPG pertama di TTU, yang juga satu dari 17 SPPG yang ada di NTT”, ujarnya.
Gubernur Melky Laka Lena memandang program yang digagas oleh Presiden Prabowo ini sangat positif sebagai bentuk tanggung jawab negara kepada anak bangsa. Dan program ini tentunya memiliki efek domino yang positif bagi sektor-sektor lainnya.
Dia mengatakan walau baru satu, namun kita lihat dampaknya luar biasa. Anak-anak dapat pemenuhan nilai gizi dan juga pekerja disini ada 50 orang belum lagi yang kerja di sektor pendukung, ternak, petani baik itu petani padi, petani holtikultura, sayur, buah dan sebagainya dan ini akan memutar betul ekonomi masyarakat di TTU khususnya di daerah sekitar dapur itu.
“Makan bergizi gratis ini merupakan fondasi bagi tumbuh kembang agar anak-anak Indonesia khususnya NTT dapat menjadi anak yang kuat, memiliki kecerdasan. Bahkan, membuat anak-anak bisa fokus untuk belajar dan berkarya, karena, tidak ada lagi rasa lapar pada saat mengikuti pelajaran”, jelas Melky.
Sementara itu, Restha selaku Kepala SPPG mengatakan kepada Gubernur NTT bahwa suplai makanan yang diolah di Dapur MBG Yabiku tersebut mayoritas berasal dari kelompok tani setempat. Ia juga mengatakan dapur ini menyerap banyak tenaga kerja lokal.
“Dapur MBG kami memiliki sekitar 50 orang pekerja, termasuk ahli gizi dan akuntan. Dan sayuran yang digunakan dan diolah di dapur ini berasal dari kelompok tani setempat yang memiliki kualitas yang segar dan bagus. Untuk buah-buahan kami memang tidak terlalu variatif karena yang kami gunakan adalah pisang dan pepaya. Namun sekarang kami juga dorong agar kelompok tani juga mengembangkan atau membudidayakan tanaman hortikultura lainnya untuk bahan MBG”, jelas dia.
Jadi Contoh Untuk Ditiru
