Produk-produk dari sisa pengolahan hasil pertanian yang ada, tambah dia, diharapkan secara simultan dan berkelanjutan. Selain sebagai buffer stock juga supplay chain untuk MBG. Lebih dari itu melalui sektor pertanian dapat menciptakan siklus ekonomi baru dan kapitalisasi ekonomi di desa akan terus bertumbuh dan makin meningkat.
Oemboe Wanda mencontohkan, kalau orang mau cari beras kualitas premium misalnya, tidak perlu jauh-jauh sampai di kota kabupaten atau kecamatan. Dia cukup datang ke desa tetangga di desa A yang mungkin hanya berjarak sekitar satu kilometer. Karena di desa A punya produk unggulan itu dan sudah punya branding.
“Jadi sesungguhnya program OVOP dari bapak Gubernur Melky Laka Lena ini agar supaya di desa punya branding. Atau ada sesuatu yang menjadi ciri khas di desa itu, yang diangkat untuk menjadi produk unggulan atau championnya di desa”, ucapnya.
Kita juga berkolaborasi dengan para petani milenial. Mereka diantaranya menyiapkan hasil UMKM dari pangan lokal seperti keripik ubi, pisang, emping jagung, bawang goreng, dan banyak produk lainnya.
“Yang dipajang di kantor ini dan juga di kantor gubernur adalah produk UMKM dari para petani milenial. Seperti halnya Arnold Sanam dari Fatuleu dengan Unit Pengolahan Hasil (UPH) yang ada di Oesao”, sebut Oemboe Wanda sembari memperlihatkan produk UMKM di ruang dinasnya.
Jadi program OVOP diyakini sukses karena dan intervensi dan kerja kolaboratif dari para pemangku kepentingan atau stakeholder yang ada. Baik dari Dinas PU, Balai Wilayah Sungai, Dinas PMD, Dinas Perindag, dan Dinas Koperasi melalui pengembangan Koperasi Merah Putih di desa.
“Dari kerja kolaboratif Pentahelix dan saling sinergis akan mampu menyiapkan bahan baku pangan lokal sebagai penyumbang MBG”, tandasnya.
Lahan Swadaya
Menjawab soal kebun contoh sebagai pilot project pendukung MBG, Oemboe Wanda di ruang kerjanya, Jumat (16/5) dia mengatakan, dinas pertanian punya Sahabat Petani yang tersebar di semua kabupaten.
