Keempat, Gerakan Menanam Bersama Masyarakat dan Aparat, sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan lokal melalui pemanfaatan lahan pekarangan dan kerja sama dengan kelompok tani.
Kelima, Kerja Sama Antar-Daerah Penghasil Komoditas Surplus untuk memperpendek rantai distribusi dan menekan biaya logistik agar harga kebutuhan pokok tetap terjangkau.
“Saya percaya dengan kolaborasi yang solid dan semangat pelayanan yang tulus, Kupang akan terus bergerak maju menjadi kota yang mampu menahan inflasi sekaligus mempercepat transformasi digital,” ujar Wali Kota Christian Widodo saat membuka High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) Kota Kupang Triwulan IV Tahun 2025, di Aula Rumah Jabatan Wali Kota Kupang, Rabu (5/11).
Dalam pertemuan itu, Wali Kota menekankan pentingnya penerapan sistem digital dalam seluruh lini pemerintahan, terutama dalam pelayanan publik dan pengelolaan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Menurutnya, sistem digital bukan sekadar tren, tetapi kebutuhan untuk memperkuat transparansi, mencegah kebocoran, dan mempercepat layanan kepada masyarakat.
Penenerapan filosofi Kepemimpinan Adaptif terhadap Perkembangan Zaman oleh Walikota Christian Widodo dan Wakilnya Serena Corsgrova Francis adalah juga bagian dari visi pelayanan menuju Kupang maju, sejahrera, dan berkelanjutan.
“Kalau kita terus bertahan dengan cara lama, kita pasti tertinggal. Dunia bisnis saja sudah digital, masa kita di pemerintahan masih manual? Kita tidak bisa mengubah arah angin, tapi bisa mengubah arah layar kita,” tegas Christian.
Di hadapan para pemangku kepentingan ekonomi dan keuangan, Walikota Christan memaparkan bahwa kinerja inflasi Kota Kupang menunjukkan hasil yang menggembirakan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Kupang mencatat inflasi year-on-year (yoy) sebesar 1,75 persen pada September 2025, sedikit meningkat menjadi 1,87 persen di bulan Oktober—angka yang tetap lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional.
