Kepala Bidang Kualitas Hidup Perempuan DP3A, Mordc Putra Marcus Ratu Kore, mengingatkan bahwa kekerasan terhadap perempuan masih menjadi persoalan serius.
Dia mengatakan, ketergantungan ekonomi membuat banyak korban terjebak dalam lingkaran yang menyakitkan. Karena itu, pelatihan ini dirancang untuk membuka pintu menuju kemandirian.
Pemberdayaan ekonomi, kata dia, adalah kunci kemerdekaan perempuan. Baginya, keterampilan seperti membuat abon ikan bukan sekadar resep makanan tapi ini adalah resep masa depan.
Hari pertama pelatihan menghadirkan materi mengenai arah kebijakan ekonomi keluarga dan penguatan UMKM oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan, Ignasius R. Lega, S.H.
Sementar pada Hari kedua, pelatihan menjadi lebih teknis dan aplikatif. Narasumber Inang Fitriani Abdullah, A.Md.Gz., S.KM. menjelaskan bagaimana UMKM rumahan bisa berkembang hanya dengan memanfaatkan akses digital dasar-media sosial, marketplace lokal, hingga metode promosi sederhana berbasis gawai. Di era Smart City, produk sederhana pun bisa dikenal luas bila kita terhubung digital.
Sementara Lynda Maryati Johana memandu proses pembuatan abon ikan yang higienis dan siap jual, lengkap dengan tips pengemasan modern yang ramah pasar. Aroma sangrai ikan dan tawa kecil para peserta menjadi bukti kepercayaan diri mereka sedang tumbuh kembali.
Pelatihan ini bukan akhir. Ini adalah awal dari perjalanan perempuan-perempuan kuat yang memutus rantai luka dan membangun masa depan dengan tangan mereka sendiri.
Pemkot Kupang memastikan bahwa Kupang Smart City adalah kota yang aman, inklusif, dan memberi akses layanan seluas-luasnya bagi warga, tanpa terkecuali.
Pada pagi itu, di ruang pelatihan sederhana, wajah-wajah yang pernah meredup mulai kembali bersinar. Perempuan-perempuan ini kembali menemukan hal berharga yang sempat hilang. Mereka yakin bahwa mereka layak bahagia, layak mandiri, dan layak menentukan masa depan mereka sendiri dan Kupang Smart City hadir untuk memastikan jalan menuju itu semakin mudah. +++ marthen/advetorial
