Bantuan darurat seperti sembako, selimut, terpal, dan kebutuhan dasar lainnya langsung disalurkan. Lebih dari itu, harapan juga ikut dibawa. Pemerintah Kota Kupang, kata Wali Kota, memiliki program bedah rumah yang akan diupayakan bagi rumah-rumah yang rusak berat dan harus dibangun kembali.
Di sudut lokasi, Yopel Misa berdiri memandangi sisa rumahnya. Dua bangunan miliknya roboh diterjang angin. Namun raut wajahnya tampak lebih tenang.
“Kejadiannya bikin kami sangat takut. Tapi kehadiran bapak Wali hari ini bikin kami tenang. Terima kasih karena sudah datang melihat kami,” katanya lirih.
Trauma serupa dirasakan Agustinus Bulu Kalli dari RT 14. Seluruh atap rumahnya terlepas, memaksanya tidur tanpa pelindung bersama enam anggota keluarga. Dalam benaknya, ingatan tentang badai Seroja kembali muncul. “Saya pikir ini Seroja kedua. Kami hanya bisa menangis. Tapi bantuan dan kehadiran bapak Wali ini sangat berarti,” ucapnya.
Di Manutapen, hari itu, empati hadir bukan hanya lewat bantuan, tetapi lewat sentuhan manusiawi. Sapaan, pelukan, dan bahkan foto bersama. Di tengah puing dan duka, warga kembali menemukan alasan untuk tersenyum, karena mereka tahu, mereka tidak sendiri. +++ marthen/*
