UMKM Jadi Garda Terdepan
Lerry Rupidara mengatakan, arah pembangunan NTT juga dipertegas dengan menempatkan ekonomi rakyat sebagai pusat strategi. Mulai dari produksi, distribusi, hingga konsumsi. Pemerintah ingin memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak hanya dinikmati oleh sektor besar, tetapi juga pelaku usaha kecil dan menengah.
“Ada program OVOP, OSOP, OFOP, dan jika perlu One Man One Product. Dari semua produk nantinya di pajang di NTT Mart – ia tidak hanya berfungsi memasarkan akan tetapi memastikan apakah asal usul produk itu dari masyarakat lokal “OKE JU”. (Olah-Kemas-Jual). Jadi bukan saja tanam, panen, lalu dijual”, tegasnya.
Untuk permodalan, tambah Lery, dalam hal Program penguatan UMKM, akses pembiayaan seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR), serta pengembangan produk lokal menjadi bagian dari upaya membangun kemandirian ekonomi daerah.
“Kalau bukan kita yang cintai produk NTT, siapa lagi. Ekonomi daerah harus bertumpu pada kekuatan rakyat sendiri,” tegas Lery.
Pesan ini mengandung makna simbolik bahwa pembangunan tidak hanya soal angka, tetapi juga soal rasa memiliki (self of belonging, red) terhadap potensi lokal.
Transparansi Modal Kepercayaan
Dalam era digital, pembangunan tanpa komunikasi yang efektif berpotensi kehilangan legitimasi publik.
Tim Komunikasi Pemerintahan yang dipimpin Prisila Parera mulai mengaktifkan berbagai kanal informasi, termasuk media sosial seperti YouTube, Instagram, dan Facebook.
Langkah ini, tegas mantan Karo APim ini, bertujuan memastikan masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pengawas pembangunan.
“Tujuan kami adalah memastikan informasi tersampaikan dengan baik, sehingga masyarakat tahu dan ikut mengawal pembangunan,” jelas.
Dalam konteks interpretatif, langkah ini menunjukkan bahwa legitimasi publik kini menjadi salah satu aset penting dalam keberhasilan kebijakan.
Hasil pantauan Portal berita citra-news.com bahwa Pembentukan Lima Tim Akselerasi di NTT pada dasarnya adalah sebuah taruhan besar.
Di satu sisi, struktur ini membuka peluang bagi kerja yang lebih terarah dan kolaboratif. Tapi di sisi lain, efektivitasnya akan sangat ditentukan oleh konsistensi pelaksanaan di lapangan.
Jika lima tim ini mampu bekerja sinergis, maka target peningkatan PAD dan penurunan kemiskinan bukan sekadar ambisi di atas kertas. Namun jika tidak, struktur baru berisiko menjadi sekadar simbol perubahan tanpa dampak nyata.
Kini, pertanyaan besarnya bukan lagi apakah tim telah dibentuk. Melainkan apakah tim-tim itu benar-benar mampu membuat NTT berlari lebih cepat dari bayang-bayang persoalannya sendiri? +++ marthen/cnc
