“Pertumbuhan dimulai dari kemauan untuk mendengar,” ujarnya, menandaskan pentingnya dialog dalam merumuskan solusi.
Forum yang dipimpin oleh Roddialek Pollo ini hadir sebagai representasi kekuatan kolektif. Menggabungkan akademisi, praktisi, pemerintah, hingga komunitas akar rumput.
Dalam konteks kota seperti Kupang, yang rentan terhadap kekeringan, pendekatan sektoral terbukti tidak lagi memadai. Dibutuhkan orkestrasi lintas disiplin yang menyatukan ilmu pengetahuan dan gerakan masyarakat.
Dukungan penuh dari pemerintah menjadi sinyal kuat bahwa upaya ini tidak akan berjalan sendiri. Dari penyediaan fasilitas hingga dukungan logistik, Pemkot Kupang menunjukkan keseriusan untuk menjadikan gerakan ini sebagai bagian dari strategi pembangunan kota.
Bahkan, rencana pengukuhan forum di Aula Rumah Jabatan menjadi simbol bahwa gerakan ini diangkat ke level kebijakan.
Namun yang menarik, gerakan ini tidak berhenti pada wacana. Sebelum resmi dikukuhkan, forum telah bergerak di lapangan.
Penanaman ratusan pohon di kawasan daerah aliran sungai (DAS), pembangunan lubang biopori di berbagai kelurahan, hingga pembentukan kelompok penjaga DAS di tingkat komunitas menjadi bukti bahwa perubahan bisa dimulai dari bawah.
Tingkat keberhasilan penanaman pohon yang mencapai lebih dari 90 persen menunjukkan bahwa ketika masyarakat dilibatkan, hasilnya tidak hanya nyata tetapi juga berkelanjutan.
Ini menjadi indikator penting bahwa pendekatan partisipatif bukan sekadar jargon, melainkan strategi efektif dalam menjaga sumber daya alam.
Kolaborasi Jadi Kunci
