Sementara itu, Adi Bajrianto dari PT Sage Mashlahat Indonesia menawarkan perspektif lain. Ia melihat kondisi iklim NTT yang cenderung kering justru sebagai peluang.
Varietas jagung hibrida yang mereka kembangkan, seperti TKS 234 atau dikenal dengan merek “Jendral”, dirancang tahan terhadap kekeringan dan memiliki rendemen tinggi.
“NTT ini unik, musim kemaraunya panjang. Tapi justru di situ keunggulan benih kami, karena varietas jagung hibrida yang kami perkenalkan mampu beradaptasi dengan kondisi NTT yang kesulitan air di musim panas”, jelas Penyedia asal Banyuwangi ini.
Pengembangan varietas 234 ini, kata Adi, tidak hanya terfokus di Kupang, tetapi juga telah menjangkau wilayah lain seperti Alor, Ngada, hingga Timor Tengah Selatan dan Lembata dalam beberapa tahun terakhir. Artinya, skala pengembangan sudah mulai meluas, tidak lagi terbatas pada satu titik.
Petugas Lapangan Ujung Tombak
Di balik semua optimisme ini, tanggung jawab besar kini berada di pundak para petugas lapangan. Mereka menjadi ujung tombak yang memastikan seluruh proses budidaya berjalan sesuai standar hingga panen.
John da Costa menegaskan, pengawalan di lapangan oleh petugas tidak boleh setengah hati. Ia bahkan mengutip analogi sederhana namun kuat dari Kepala Dinas PKP NTT, bahwa Jadilah seperti sapu lidi. Satu lidi tidak bisa membersihkan apa-apa. Tapi kalau bersama, bisa menyapu semuanya.
Analogi itu bukan sekadar kata-kata. Ia mencerminkan filosofi kerja kolektif yang kini menjadi fondasi pengembangan pertanian di NTT.
Gelar teknologi di BBI Tarus pada akhirnya bukan hanya tentang jagung. Ia adalah gambaran tentang bagaimana NTT sedang membangun masa depan pangannya: melalui inovasi, kolaborasi, dan keberanian untuk berubah.
Di tengah ancaman krisis pangan global dan tekanan perubahan iklim, langkah ini bisa menjadi penentu: apakah NTT tetap menjadi wilayah dengan keterbatasan, atau justru bangkit sebagai lumbung jagung di kawasan timur Indonesia.
Jawabannya adalah benih jagung hibrida yang sedang ditanami hari ini (Sabtu 2 Mei 2026, red) di Desa Mata Air Tarus Kabupaten Kupang. +++ marthen/cnc
