Dia juga mengingatkan bahwa wilayah perbatasan seperti NTT memiliki posisi yang sangat menentukan dalam menjaga kedaulatan Indonesia. Pembangunan pertahanan modern tidak cukup hanya mengandalkan kekuatan militer, tetapi juga kesiapan teknologi, penguatan hukum, dan pembangunan kapasitas masyarakat.
Ia bahkan menyinggung lahirnya Universitas Pertahanan Republik Indonesia di Kabupaten Belu sebagai bagian dari strategi jangka panjang memperkuat sistem pertahanan nasional yang adaptif terhadap tantangan global.
Sebelumnya, Ketua Umum DPP IKAL Lemhannas RI, Purnomo Yusgiantoro resmi melantik Rofinus Neto Wuli sebagai Ketua DPD IKAL Lemhannas Provinsi NTT Masa Bakti 2026–2031.
Dalam kepengurusan tersebut, Elia Thomas Salean dipercaya sebagai Wakil Ketua I, Dr. Goris Lewoleba sebagai Wakil Ketua II, Yan Richard Mboeik sebagai Sekretaris, Tudermi Maksimilyan Fioh sebagai Wakil Sekretaris, Ahmad Dimyati sebagai Bendahara, serta Wilfridus Kado sebagai Wakil Bendahara.
Momentum ini menjadi pengingat bahwa masa depan NTT tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran pembangunan, tetapi juga oleh kemampuan seluruh elemen daerah membangun kolaborasi, menghadirkan inovasi, dan memanfaatkan posisi strategisnya di tengah perubahan geopolitik kawasan.
Jika paradigma lama menempatkan NTT sebagai daerah terluar yang selalu menunggu perhatian pusat, maka paradigma baru justru melihat NTT sebagai pintu masuk masa depan Indonesia di kawasan selatan.
Menurut Rofinus, tantangannya kini bukan lagi soal apakah NTT memiliki potensi, melainkan seberapa cepat seluruh kekuatan daerah mampu mengubah potensi itu menjadi kesejahteraan nyata bagi masyarakat.
