“Yang kita perlukan bukan sekadar berhemat, tetapi bijak dalam menggunakan uang. Kita perlu memiliki perencanaan, memiliki saving untuk pendidikan anak dan kesehatan, serta mampu mengelola keuangan keluarga dengan baik,” ujarnya.
Dalam konteks pemerintahan, penguatan literasi keuangan keluarga juga memiliki dimensi yang lebih luas. Keluarga merupakan fondasi ketahanan sosial dan ekonomi masyarakat.
Ketika keluarga mampu mengelola pendapatan dan menghadapi risiko finansial secara lebih baik, kemampuan masyarakat untuk bertahan terhadap tekanan ekonomi juga ikut diperkuat.
Peran perempuan dalam proses tersebut menjadi salah satu alasan kegiatan ini diarahkan kepada anggota DWP.
Pengurus DWP Kota Kupang, Meilan Sibuea, S.STP., M.Si., mengatakan perempuan memiliki posisi strategis dalam pengelolaan keuangan rumah tangga sehingga membutuhkan pemahaman yang memadai tentang kebutuhan, keinginan, tabungan dan perencanaan keuangan.
Meilan menjelaskan, digitalisasi telah membuka ruang yang semakin luas bagi masyarakat untuk melakukan transaksi keuangan. Namun, di balik kemudahan itu terdapat risiko penipuan daring dan kejahatan siber.
