Iklan Baris :
Ingin Pasang Iklan, Klik disini - Ingin Koreksi, Klik Teks ini

Pengelolaan Kawasan KONSERVASI Berdampak GANDA Bagi MASYARAKAT

CitraNews

Kepala Balai BKSDA NTT, Arief Machmud (kanan) didampingi Imanuel Ndun. Doc. marthen radja/citra-news.com

Program pembangunan NTT saat ini yang menjadikan pariwisata sebagai Prime Mover – penggerak utama untuk tumbuh kembangnya perekonomian, erat kaitannya dengan konservasi alam.

“BBKSDA NTT Patut memberi apresiasi kepada bapak Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat dan ibu Julie Laiskodat yang sudah mengoptimalisasi kawasan konservasi alam di NTT menjadi destinasi pariwisata,” kata Arief.

Di Flores, lanjut dia, ada Kawasan Taman Nasional Komodo (TNK) di Labuan Bajo Kabupaten Manggarai Barat menjadi kawasan wiaata premium. Ada juga kawasan Taman Nasional Danau Tiga Warna Kelimutu di Kabupaten Ende. Dua kawasan wisata alam ini menjadi perhatian intens Kementerian LHK khususnya Dirjen KSDAE (Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem).

Sesungguhnya di NTT ada banyak juga kawasan wisata alam laut dan kehutanan. Di beberapa kabupaten baik ynag ada di Pulau Flores, Timor, Sumba, Alor, Rote Ndao, dan Sabu Raijua.

“Hampir semua kawasan hutan di NTT dengan beragam kayu-kayuan ini beberapa diantaranya menjadi sumber pewarnaan kain tenun ikat NTT. Yang dimanfaatkan secara turun temurun dan menjadi warisan adat budaya di masyarakat Nusantara,” tuturnya.

Bhavana Satya Alam Budaya Nusantara yang artinya Memupuk Kecintaan pada Alam dan Budaya Nusantara. Ini yang perlu dipertahankan dan dilestarikan.

Provinsi NTT yang kaya dengan beragam potensi alam sangat erat kaitannya dengan kehidupan adat budaya masyarakat setempat. Dalam dunia konservasi alam dan.perhutanan tidak terlepas dari kehidupan sosial budaya masyarakat.

Sehingga di banyak kawasan perhutanan di NTT oleh masyarakat adat menjadikan sebagai tempat ritual adat. Kemudian ada beberapa jenis pohon yang dimanfaatkan untuk pewarnaan kain tenunan (pewarnan alam).