Kelima lokasi sasaran, sebut Amrih, sudah tiga lokasi dilakukan pelatihan dan pendampingan. Yaitu di Desa Trangsan Kabupaten Sukoharjo, Provinsi Jawa Tengah. Berikut, di Kabupaten Minahasa Provinsi Selatan Sulawesi Utara. Dan saat ini sedang berjalan di Kota Kupang Provinsi NTT.
“Kita mulai hari ini para pelaku UKM diberikan pelatihan ketrampilan (vocational) terkait Teknik Produksi Pengolahan Daging Sapi Potong, sesuai kebutuhan dari pelaku UKM di NTT,” ucap Amrih.
Amrih juga menjelaskan tujuan dilakukan vocational ini untuk peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) pelaku usaha terlebih pada teknik pengolahan daging sapi.
“Untuk mencapai keluaran hasil (outcome) Rumah Produksi Bersama dengan model tata kelola koperasi ini tentunya diperlukan strategi dalam rangka peningkatan kapasitas produksi, kualitas dan capacity building SDM. Antara lain melalui sosialisasi, bimbingan teknis, pendampingan dan pelatihan vocational seperti ini,” tutur Amrih
Pelaku UKM yang kita damping ini dipersiapkan untuk mengelola industri Rumah Produksi Bersama yang siap dibangun mulai tahun 2022 ini. Sampai pada saatnya siap dioperasikan, maka Koperasi dan Anggota telah siap memanfaatkan Rumah Produksi Bersama tersebut secara maksimal dan berkelanjutan.
Serap Tenaga Kerja
Menurut Amrih populasi UMKM hingga kini mencapai 98 persen dan telah mampu menyerap 97 persen tenaga kerja.
Namun, dari populasi dan serapan tenaga kerja yang didominasi UMKM tersebut tidak berbanding lurus dengan kontribusi UMKM terhadap perekonomian Nasional.
Amrih mengatakan, UMKM hanya berkontribusi: 60,34 persen dari total PDB, 14,37 dari total dari total Ekspor, dan 58,18 persen dari total Investasi.
Apabila produktivitas dan daya saingnya dioptimalkan, tambah Amrih. maka pertumbuhan ekonomi nasional diperkirakan mampu meningkat hingga 7 sampai 9,3 persen per tahun.
Di sisi lain UMKM saat ini menghadapi kendala pada berbagai aspek usaha. Diantaranya penyediaan bahan baku, pembiayaan, pemasaran, teknologi, dan SDM.
Tantangan terbesar lainnya, sambung Amrih, adalah jalinan kemitraan, termasuk berjejaring dalam rantai nilai global (Global Chain Value) yang masih rendah. Yaitu hanya sebesar 7 persen.
