Dengan nada meninggi Gubernur Viktor menuturkan, “Oh iya. Semua dan siapapun dia yang telah memberikan pikirannya, kritik dan saran. Saran-saran yang konkrit, saran-saran yang perlu kita pikirkan lagi. Itu semua menuju kecintaan membangun Nusa Tenggara Timur. Jadi maju terus. Masaq ko maju mundur”.
Diketahui, kontroversi ini bukan harga mati. Karena pihak Pemprov NTT nyatakan bersedia untuk mengkaji ulang setelah mendapat masukan dari berbagai pihak, tidak terkecuali para pakar di bidang pendidikan.
Saat menyampaikan sambutan Gubernur Viktor ke SMAN 6 Kupang Jumat kemarin dia menjelaskan beberapa hal yang sekiranya bisa menurunkan derasnya arus kontroversi itu saat ini.
Dia mengatakan, dipersiapkan (uji coba) hanya ada 10 sekolah tingkat SMAN/SMKN di Kota Kupang. Itupun tidak diterapkan ke semua kelas. Tapi hanya siswa kelas XII (kelas tiga) saja. Kemudian dalam perjalanan uji coba ini nantinya hanya ada dua sekolah yang dipilih jadi sekolah unggulan.
Kepada sekolah yang dipersiapkan menjadi sekolah unggulan, dimulai dengan disiplin soal waktu sekolah. Yaitu untuk jam masuk sekolah dimulai pada pukul 05 30 Wita. Masuk sekolah bukan berarti masuk kedalam kelas untuk memulai pelajaran.
“Kepada bapak/ibu guru bahwa sekolah jam lima tigapuluh pagi itu bukan berarti langsung di kelas. Ingat, para guru dan kepala sekolah nanti bersama siswa semua enjoy dulu menari ke, menyanyi dulu, iya rileks dulu. Setelah rileks benar baru masuk kelas untuk transfer knowledge ke siswa”, tegas Gubernur Viktor.
Bahkan dalam sambutannya sang Gubernur mengingatkan guru dan kepala sekolah bahwa anak-anak yang dipersiapkan ini tidak boleh ada satu gurupun yang tidak paham terhadap anak. Baik kehidupan anak di rumah, di lingkungan sosial anak dan juga di sekolah.
Harus dipahami dengan baik bagaimana kehidupan mereka (siswa, red) di rumahnya. Apakah mereka sampai di sekolah ini mereka terima mata pelajaran dengan baik atau tidak.
“Ingat, kita bukan sedang menjadi lembaga jasa penitipan anak. Kita sedang menjadi lembaga untuk menjadikan seseorang menuju masa depannya. Mandiri untuk membangun dirinya dan mandiri untuk menatap masa depannya. Itu adalah sebuah cita-cita untuk mebangun provinsi ini yang sekian lama ‘tidur'”, ungkapnya.
Kita tahu, sambung Gubernur, bahwa NTT ini banyak sumbangkan pikiran-pikiran cerdas. Tapi rata-rata bukan dari sekolah negeri.
