“Peran kami di dinas pertanian adalah melakukan sosialisasi dan pendampingan ke kelompok masyarakat petani untuk terus gencar membudidaya tanaman pangan dan holtikuktura. Khususnya tanaman padi diharapkan perlu berganti varietas sehingga produksinya bisa meningkat”, tuturnya.
Dalam hal pencegahan dan penurunan stunting di Provinsi NTT, jelas Umbu, dari sumber dana APBN pemerintah pusat memberikan bantuan secara gratis bibit/benih padi Inbrida Sawah sebanyak 5000 Hektar (HA) untuk NTT. Dan juga bibit padi Bio Fortifikasi atau Nutri Zink
untuk pencegahan Stunting sebanyak 8000 HA
“Dari 8000 Hektar benih padi nutri zink ini kita bagikan secara cuma-cuma untuk masing-masing kelompok tani (Koptan) sesuai data CPCL- Calon Petani Calon Lokasi yang diusulkan dari dinas pertanian kabupaten”, tuturnya.
Adapun syarat penerima benih padi varietas biofortifikasi adalah terdata di kelompok tani. Datanya terselektif secara objective dan bukan karena like and dislike atau suka tidak suka terhadap kelompok tani. Selain data juga sasaran utamanya pada daerah-daerah stunting.
“Jadi sasarannya ke kelompok CPCL itu harus mengena dan berdampak. Artinya berdampak tidak hanya out come-nya tapi benefit impact-nya harus ada. Karena tujuan kita atau goalsnya adalah Penurunan Stunting”, tegas Umbu.
Minus 6 Daerah
Umbu Wanda mengatakan, kontribusi dari dinas pertanian untuk cegah dini masalah stunting adalah menggerakan petani untuk terus mengembangkan varietas padi Nutri Zink.
Perlu diketahui, varietas padi biofortifikasi (nutri zink) sangat cocok dengan agroclimate NTT. Vaietas ini sama dengan jenis padi Ciherang dan Inparing. Hanya saja ditambah pemulia tanaman atau dikawinsilangkan dan ditambah nutri zinknya.
