Pj. Gubernur NTT, Dr. Andriko Noto Susanto saat berkunjung ke Pulau Padar, Labuan Bajo Flores NTY. Doc. CNC/biro APim setdantt
Semoga saja bukan modus operasi TPPO atas tawaran menggiurkan dari PT SALCRA. Bahwa semua biaya administrasi calon TKI dari NTT ke Malaysia gratis dan gaji sebesar Rp 6 juta sebulan.
Citra News.Com, LABUAN BAJO – PENJABAT (Pj.) Gubernur NTT, Dr. Andriko Noto Susanto, SP., MP lakukan pertemuan dengan Menteri Industri Pangan, Komoditas dan Pembangunan Regional Serawak Malaysia, Dato Sri Stephen Rundi Anak Utom di Labuan Bajo Kabupaten Manggrai Barat Provinsi Nusa Tenggara Timur
Meski pertemuan yang konon tidak direncanakan antara kedua pejabat antarnegara ini, namun sangat berarti bagi kenyamanan para calon Pekerja Migran Indonesia asal NTT yang bekerja di Malaysia.
Tepat di hari Pelantikan Presiden dan Wapres RI, Prabowo Subyanto dan Gibran Rakabuming Raka, pada Minggu 20 Oktober 2024, Pj. Gubernur NTT, Dr. Andriko Noto Susanto berkunjung ke Pulau Padar dan Pulau Komodo menumpang Kapal Pinishi milik Balai Taman Nasional Komodo (BTNK). Saat melakukan pendakian ke puncak Padar pada saat bersamaan Dato Sri Stephen bersama rombongan juga melakukan trekking ke puncak Padar.
Berfoto ria dengan hewan Komodo Pj. Gubernur NTT, Dr. Andriko Noto Susanto saat berkunjung ke Pulau Komodo. Doc. CNC/biro APim setdantt
Biro Administrasi Pimpinan Setda NTT merilis, dalam pertemuan tersebut Dato Sri Stephen sangat terkesan dengan keindahan Labuan Bajo, termasuk Kawasan Taman Nasional Komodo dan juga pulau sekitarnya.
“Next time saya akan datang lagi dan akan membawa lebih banyak lagi orang,” kata Dato Sri Stephen yang baru pertama kali datang ke Labuan Bajo.
Dalam kesempatan tersebut, Andriko menyinggung tentang banyaknya tenaga kerja NTT yang bekerja di Malaysia. Dan kebanyakan PMI asal NTT mengambil jalur illegal untuk bekerja di Malaysia.
“Mudah-mudahan Sri Dato bisa mengatur tentang hal ini secara lebih baiklah. Prinsipnya banyak tenaga kerja asal NTT yang kerja di Malaysia,” harap Andriko.
Lebih lanjut, Pj. Gubernur mengatakan, yang jadi problema adalah masyarakat NTT butuh pekerjaan tapi kadang-kadang jalur legal dilihat masyarakat yang cari kerja agak ribet. Karena itu, masuklah orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang menawarkan jalur illegal dengan jalan mudah.
