CNC : Bagaimana hubungan GCPL dengan Swasembada Pangan
BOW : Berbicara soal Swasembada Pangan, ini adalah gerakan nasional. Dan menjadi harapan Presiden Prabowo bahwa NTT salah satu wilayah Lumbung Pangan Nasional. Ada tiga potensi yang jadi sektor andalan dari NTT yakni pertanian, peternakan, dan perikanan. Jika tiga sektor ini berkolaboratif dan digerakkan secara masif maka alhasil kita tidak lagi bergantung dari hasil impor. Bahkan kita bisa mengekspor atau mengantarpulaukan pangan NTT.
Untuk menggapai tujuan ini sudah tentu harus kerja kolaboratif Pentahelix. Agar produktivitas, aksesibilitas, pengolahan hingga hingga pengolahannya berjalan simultan. Karena yang jadi permasalahan kita adalah jumlah produksinya masih minim atau terbatas. Sehingga belum sanggup kita jual keluar NTT, walau pemasaran itu tujuan berikutnya. Tapi yang pasti bahwa kebutuhan untuk konsumsi berkecukupan dan sebagai buffer stock (cadangan pangan) saat paceklik oleh akibat cuaca ekstrim.
CNC : Bagaimana ceritanya hingga ada hubungan sebab akibat (causa prima) antara kebijakan GCPL dan NTT lumbung Pangan Nasional?
BOW : Sebagai wilayah kepulauan daerah-daerah di NTT punya anek ragam potensi. Dengan jumlah penduduk mayoritas petani lalu ditopang dari sisi penganggarannya oleh pemerintah pusat dan daerah maka NTT jadi Lumbung Pangan Nasional bukanlah hal yang mustahil. Dari anggaran yang ada dan dengan menggerakan semua potensi yang dimiliki maka kita tidak lagi belanja barang kebutuhan dari luar NTT. Itu juga salah satu cara kita untuk mencegah capital flight atau uang keluar dari NTT
CNC : Anda juga punya ide menciptakan Desa Model Pertanian atau DEMO TANI. Bagaimana aplikatifnya di lapangan.
BOW : Benar Demo Tani ini konsep atau ide saya sebagai ASN di Dinas Pertanian Provinsi. Ide ini muncul setelah saya melihat kondisi riil di lapangan bahwa untuk Membangun Pertanian Berkelanjutan sebagai Pilar Ketahanan Pangan, Sosial, dan Ekonomi Nusa Tenggara Timur diperlukan kerja kolaboratif. Kita punya potensi sumber daya alam dan sumber daya petani yang mumpuni. Ini perlu kita gerakkan dari hulu sampai hilir.
Demo Tani yang jadi locus kita di NTT karena ada irisan kemiskinan dan stunting. Maka disitulah kita lakukan kerja kolaboratif pentahelix mulai dari hulu hingga hilir.
Dengan jumlah penduduk NTT sekitar 5,4 juta jiwa dimana sebagian besar adalah petani. Dengan total luasan lahan kering 1,5 juta Hektar. Walaupun kita sadari benar bahwa petani kita yang bekerja di sektor pertanian konvensional sudah berusia diatas 40-50 tahun. Yang saya mau bilang bergeser ke petani milenial jumlahnya sudah berkurang karena mereka lebih banyak bekerja di sektor jasa yang cepat dapatkan duit.
Jadi petani tulen inikan lama proses untuk mendapatkan uang. Bisa butuh waktu 100 hari atau 3 bulan baru bisa menghasilkan duit. Misalkan tanam jagung, atau padi genja maka sekitar 3 bulan baru bisa.penen. Itupun kalau berhasil tapi kalau ada kejadian force major seperti gempa, seroja, dan cuaca ekstrim maka petani dapatkan hasil yang terbatas bahkan puso.
CNC : Orang kebanyakan berpendapat potensi kemiskinan dan stunting itu ada di desa. Pendapat anda?
