Menurut dia, salah satu dampak perubahan iklim pada bidang pertanian yakni isu ketahanan pangan. Sehingga perlu ada mitigasi dan adaptasi dengan melakukan kolaborasi dengan menanam pohon.
Ia juga mengapresiasi antusiasme masyarakat dengan adanya gerakan tanam pohon tersebut. Ini sebagai sinyal dukungan dari seluruh masyarakat khususnya masyarakat Petani yang ada di Kelurahan Bello.
Sementara itu Direktur Centrum Inisiatif Rakyat Mandiri (Cirma) NTT John Ladjar mengatakan dengan adanya perubahan iklim ini, yang paling banyak berdampak adalah para petani kecil.
Dampak perubahan iklim itu bisa saja menyebabkan terbatasnya curah hujan sehingga ketersedian air tanah makin berkurang dan menyulitkan para petani dalam mengolah pertanian. Ataukah terjadinya bencana kekeringan dan tanah longsor yang mengakibatkan petani gagal tanam atau gagal panen.
“Untuk mengatasi hal ini maka kami dari lembaga Cirma NTT membangun kolaborasi dengan BMKG melakukan aksi nyata penanaman kembali bibit anakan pohon dan menggelar sekolah lapang bagi petani kecil di Timor Barat”, kata dia.
John Ladjar menyebut, ada 6000 petani kecil di wilayah Timor didampingi Cirma yang tersebar di 30 desa/kelurahan. Termasuk di Kota Kupang ada 300 petani yakni di Bello, Naioni dan Kolhua.
