“Iya belum tentu. Karena beda wilayah beda karakter. Karena itu perlu identifikasi wilayah mana saja yang menjadi kantong produksi.Terutama daging sayuran dan buah-buahan. Demikian juga kebutuhan daging bahwa tidak semua daerah punya sentra peternakan.
“Kalaupun tersedia itu musiman. Seperti sayuran dan buah-buahan, produksi berlimpah saat musim hujan. Di musim kering sudah berkuramg bahkan sudah tidak ada lagi. Sementara kebutuhan MBG setiap hari, iya terpaksa harus datangkan dari luar. Nah, kalau datang dari luar sudah tentu ada bahan pengawet”, kata Ferdy.
Saat ini rata-rata kebutuhan daging di pedesaan, tambah dia, lebih banyak dipasok dari luar berupa ayam pedaging atau ayam beku. Pola lama dimana setiap rumah tangga ada pelihara ayam kampung, saat sekarang kita sudah sulit cari ayam kampung.
Fredy juga membuat perbandingan antara program MBG dan program OVOP. Bahwa program OVOP saat ini baru pada tataran persiapan. Sedangkan program MBG sudah mulai action di banyak sekolah. Yang pastinya bahan makanan disuplay dari luar NTT.
“Nah, bisa jadi harus gencar dilaksanakan program OVOP ini untuk menjawab ketidaksukaan anak sekolah memakan makanan dari luar daerah. Sebagai representasi dari rakyat NTT, kami berharap adanya program OVOP mampu menjawab kebutuhan MBG. Baik dari sisi kuantitas maupun kualitasnya”, pungkasnya. +++ marthen/CNC
