Untuk itu dia mengajak semua elemen masyarakat mari kita kerjasama dan sama-sama bekerja untuk sebuah tujuan mulia. Sebuah gebrakan besar akan terjadi bila kita satu sama lain saling menopang.
Dalam sambutannya di hadapan jajaran RSUD, pejabat struktural, dan para tokoh masyarakat, Walikota Christian menegaskan bahwa program ini adalah wujud nyata pemerintahan yang melayani atau memerintah untuk melayani- govern is to serve.
Ia menyentil pengalaman pribadinya sebagai dokter yang tak ingin lagi melihat pasien IGD kritis ditolak hanya karena tidak memiliki KTP, KK, atau BPJS tidak aktif.
“Saya tidak mau lagi ada nyawa yang hilang hanya karena tuntutan urusan administrasi ini dan itu. Rumah Sakit SK Lerik ini Rumah Sakit milik Pemerintah Daerah Kota Kupang. Dan kehadiran pemerintah salah satunya adalah melayani kebutuhan pasien gawat daurat seperti diperagakan ini” imbuhnya.
Berjalan Dalam Pengharapan
Lebih jauh Dokter Christian menjelaskan, Pemerintah Kota (Pemkot) Kupang mengalokasikan dana sebesar Rp 3 miliar setahun untuk penanganan pasien gawat darurat RSD S.K Lerik. Dana ini dari pos Bantuan Tidak Terduga (BTT). Tapi di era kepemimpinannya, dana BTT itu kini resmi dialokasikan untuk pasien gawat darurat non-BPJS.
Kategori non-BPJS ini, tambah dia, termasuk warga yang kartunya mati, tak punya identitas, atau sedang dalam kondisi mendesak dan kritis. Dan itu tidak cuma warga Kota Kupang. Warga luar kotapun bisa ditangani jika mengalami kecelakaan berat dan masuk IGD RSUD S.K Lerik. Jadi bukan untuk sakit demam flu biasa
“Program ini diyakini akan menyelamatkan banyak nyawa pasien gawat darurat. Dan RSUD S.K. Lerik menjadi contoh pelayanan publik yang humanis dan penuh pengharapan. Iya, pengharapan itu lebih penting dari segalanya. Tanpa harapan, manusia bisa mati meski masih bernapas”, ucapnya.
Dihadapan para undangan yang hadir penuhi Aula Rumah Sakit, Walikota Christian juga memberi apresiasi khusus kepada jajaran RSUD, komite medis, camat, lurah, dan kepala Puskesmas se-Kota Kupang.
