Sekretaris Daerah Kota Kupang, JEFRY Edward Pelt, SH. Doc. cnc/illustrasi
Citra News.Com, Kupang – TIDAK cuma diatas kertas atau sekadar habiskan anggaran di meja pelatihan. Akan tetapi para utusan dari 51 kelurahan se-Kota Kupang dengan sebutan Duta Anti Hoax ini, diharapkan mampu memerangi setiap informasi bohong alias hoax yang beredar luas di media sosial.
Saat membuka kegiatan Pelatihan Duta Anti Hoax Tahun 2025, di Aula Rumah Jabatan Wali Kota Kupang Jumat (5/12), Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Kupang, Jefry Edward Pelt, SH mewakili Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, dia mengatakan Teknologi digital sangat membantu kehidupan kita. Anak-anak pun kini sudah akrab dengan penggunaan telepon genggam. Namun, jika disalahgunakan maka ia justru bisa merusak mental dan kepribadian terutama anak dibawah umur serta degradasi sosial lainnya.
Suka atau tidak suka kegidupan masyarakat saat ini tidak terlepas dari perkembangan teknologi digital. Utamanya penggunaan telpon gengam atau handphone (HP) anroid oleh anak-anak. Jika para orangtua tidak bijak melakukan pengawasan maka hal ini dapat mengakibatkan degradasi mental dan moral.
Dalam sambutannya, Sekda Jefry Pelt menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang hadir mengikuti pelatihan tersebut. Ia berharap para peserta dapat menjadi agen perubahan dalam memerangi penyebaran hoaks di lingkungan masing-masing.
“Atas nama Pemerintah Kota Kupang, saya menyampaikan terima kasih karena Bapak-Ibu telah bersedia hadir dan mengikuti pelatihan ini serta siap menjadi duta anti hoaks, dimulai dari keluarga masing-masing,” ujarnya.
Dia mengatakan, fenomena penyebaran informasi palsu jauh lebih cepat jika dibandingkan dengan informasi yang benar. Berita baik cenderung cepat dilupakan, sementara hoaks justru bertahan lama dan terus berulang.
“Berita baik biasanya cepat hilang, tetapi hoaks bisa hidup lama di tengah masyarakat. Bahkan ada hoaks dari tahun 2019 yang sampai sekarang masih kita dengar,” jelasnya.
Jefry Pelt juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah menyebarkan informasi tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu. Ia mencontohkan kebiasaan sebagian orang yang langsung memotret kejadian di jalan dan membagikannya ke media sosial tanpa mengetahui kebenarannya.
