Menurutnya, visi tanpa eksekusi hanyalah ilusi yang tidak memberi dampak apa pun. Christian kemudian mengilustrasikan perubahan perilaku masyarakat melalui kebijakan penggunaan helm standar.
Dikatakan, Kebijakan memggunakan helm standard tersebut sempat menuai penolakan dan konflik, namun melalui edukasi yang konsisten, kini telah menjadi kebiasaan (habit) dan kesadaran bersama di masyarakat.
“Dulu orang disuruh pakai helm standard saja ribut. Sekarang malah malu kalau tidak pakai helm yang benar. Itu bukti bahwa perubahan butuh waktu, edukasi, dan konsistensi,” ujarnya.
Atau terkait pembatasan jam pesta, tambah Walikota, penerapannya diawal-awal hadapi kendala. Namun lama kelamaan kalau semakin sering diikuti sudah satu dua lingkup RT/RW maka yang lain pasti akan malu juga kalau masih tetapkan pola lama.
“Saya contohkan di lingkungan sekitar Rumah Jabatan kalau dulu musik selalu hingar bingar. Tapi sekarang mulai berkurang. Iya dalam satu minggu satu dua kali adalah, tapi dikurangi volume musiknya,”timpalnya.
Prinsip yang sama, lanjut Christian Widodo, harus diterapkan dalam memerangi hoax. Masyarakat perlu dibiasakan untuk tidak tergesa-gesa membagikan informasi yang belum tentu kebenarannya. Jadi harus check and recheck terlebih dahulu.
“Membaca berita secara utuh, mengecek dari berbagai sumber, serta memastikan kebenaran fakta adalah tanggung jawab moral setiap warga, terlebih para Duta Anti Hoax”, tegas Christian.
