Rangkaian perayaan ini berpuncak pada pelaksanaan Catur Brata Penyepian—sebuah praktik keheningan total selama 24 jam. Dalam perspektif sosial, Nyepi menawarkan sesuatu yang langka yaitu jeda kolektif.
Di tengah ritme kehidupan kota yang semakin cepat, keheningan menjadi bentuk “perlawanan” terhadap kebisingan—baik secara fisik maupun mental. Ia memberi ruang bagi refleksi, evaluasi, dan pemulihan.
Penjelasan dari Wakil Ketua II PHDI Kota Kupang, I Gusti Ngurah Suarnawa
bahwa seluruh rangkaian, mulai dari Tawur Kesanga hingga ogoh-ogoh, bermuara pada satu tujuan yakni keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan.
Ketua panitia, I Wayan Gede Astawa, menyebutkan bahwa kegiatan ini tidak berdiri sendiri. Donor darah, berbagi takjil, hingga buka puasa bersama menjadi bagian dari rangkaian yang menunjukkan interaksi lintas iman.
Fakta ini memperlihatkan bahwa toleransi di Kota Kupang tidak berhenti pada slogan, tetapi dipraktikkan dalam tindakan nyata. Dukungan pemerintah, aparat keamanan, dan partisipasi masyarakat lintas agama menjadi fondasi utama.
Pawai ogoh-ogoh di Kota Kupang, pada akhirnya, bukan hanya tentang tradisi Hindu atau perayaan menjelang Nyepi. Ia adalah cermin dari bagaimana sebuah kota mengelola keberagaman.
Di tengah berbagai tantangan sosial yang kerap menguji kohesi masyarakat di banyak daerah, Kupang menawarkan narasi berbeda. Bahwa harmoni bisa dibangun, dirawat, dan dirayakan bersama.
Dan mungkin, seperti pesan yang tersirat dalam ogoh-ogoh itu sendiri, harmoni sejati dimulai dari keberanian untuk menghadapi dan mengalahkan “musuh” dalam diri kita masing-masing. +++ marthen/*
