Di balik layar, semangat serupa juga dirasakan oleh para penggagas kegiatan. Ketua panitia, Nauril Firdaus Baleti menyebut kegiatan ini lahir dari inisiatif generasi muda Islam Kota Kupang yang ingin merawat toleransi di tanah yang mereka cintai.
Dari Kupang, mereka ingin mengirimkan pesan: bahwa perbedaan bukan untuk dipertentangkan, tetapi untuk dirajut menjadi harmoni.
Ketua PHBI Kota Kupang, Bustaman, dan Ketua MUI Kota Kupang, H. Muhamad MS, turut merasakan hal yang sama. Bahkan, di tengah berbagai tantangan, termasuk kekhawatiran cuaca, semangat untuk tetap menghadirkan kebersamaan akhirnya mengalahkan keraguan.
Malam pun terus berjalan. Takbir masih bergema, kendaraan hias terus melintas, dan warga tetap bertahan menikmati suasana. Di antara semua itu, ada satu hal yang terasa jelas. Bahwa Kupang tidak hanya merayakan Idulfitri, tetapi juga merayakan dirinya sendiri sebagai rumah bersama.
Dan di bawah langit yang sama, perbedaan kembali menemukan tempatnya. hidup saling berdampingan, saling menguatkan, dalam satu kata sederhana yaitu Persaudaraan. +++ marthen/*
