Tampak Kepala Kantor Wilayah DJP Nusa Tenggara, Judiana Manihuruk, mengikuti temu pers secara Daring, Kamis 26/3/2026. Doc. CNC/humas kppkpg.
Citra News.Com, MATARAM – KETIKA angka pajak menjadi cermin Gerak Ekonomi NTT, angka 38,5 persen itu kini tumbuh perlahan namun pasti ada harapan bahwa ekonomi daerah sedang menemukan ritmenya.
Di tengah bentangan tantangan pembangunan wilayah kepulauan di NTT, angka-angka kerap berbicara lebih jujur daripada narasi panjang. Pada awal 2026, angka itu datang dari sektor perpajakan.
KPP Pratama Kupang merilis, hingga 28 Februari, penerimaan pajak di Nusa Tenggara Timur (NTT) mencapai Rp298,66 miliar atau tumbuh 38,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Ini sebuah lonjakan yang tidak sekadar statistik, tetapi isyarat tentang denyut ekonomi yang masih terjaga di NTT. Di balik pertumbuhan ini, tersimpan cerita tentang aktivitas masyarakat yang terus bergerak.
Pajak Penghasilan (PPh) dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) masih menjadi tulang punggung penerimaan. Artinya, roda ekonomi NTT masih berputar pada dua poros utama: penghasilan dan konsumsi. Ketika PPh tumbuh, ada lebih banyak pendapatan yang tercatat. Ketika PPN meningkat, ada transaksi yang terus berlangsung – di pasar, toko, hingga ruang-ruang usaha kecil.
