Johny Sulaiman : Layanan kami bersifat eksisting dan kami tidak sedang mengejar perluasan jaringan baru. Tetapi kami berupaya mempertahankan jaringan lama agar tetap berfungsi.
Citra News.Com, KUPANG – BAGI masyarakat, air bersih adalah kebutuhan paling dasar. Karena itu, setiap gangguan pasokan selalu berujung pada satu pertanyaan: seberapa mampu pelayanan publik oleh PDAM menjawab kebutuhan masyarakat?
Pertanyaan itu kini terus melingkar di benak Johny Sulaiman, Direktur PDAM Kabupaten Kupang. “Ada kendala teknis yang menjadi tantangan bagi kami di PDAM Kabupaten Kupang. Tapi tantangan itu kami upayakan maksimal dengan sumber daya yang ada mampu melayani kebutuhan air bagi masyarakat. Karena kepuasan konsumem adalah keutamaan”, ungkap Johny saat ditemui citra-news.com, Senin (27/7/2026).
Dia menjelaskan, sejumlah kendala seperti jaringan perpipaan yang sebagian berusia lebih dari 30 tahun, debit air yang menurun saat musim kemarau, kebocoran, kerusakan mesin hingga keterbatasan anggaran menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan tanpa menghentikan pelayanan kepada pelanggan.
Kepuasan konsumen harus tetap menjadi prioritas, tegasnya. Pelaksanaan pelayanan kepada masyarakat atau konsumen itu harus maksimal. Karena menyangkut air adalah kebutuhan yang paling mendasar, maka optimalisasi layanan terhadap konsumen adalah keutamaan.
Dia mengakui Pemerintah Kota Kupang juga memiliki PDAM. Tapi pelayanan PDAM Kabupaten Kupang di sejumlah wilayah Kota Kupang tidak tumpang tindih dengan pelayanan pemerintah kota. Jaringan yang ada merupakan warisan pelayanan sebelum Kota Kupang berdiri sebagai daerah otonom tahun 2005, hasil pemekaran dari Kabupaten Kupang.
Karena itu pola pelayanan kami PDAM Kabupaten Kupang saat ini lebih bersifat eksisting. Kami tidak sedang mengejar perluasan jaringan baru, tetapi berupaya mempertahankan jaringan lama agar tetap berfungsi. Berdasarkan data awal, pelayanan PDAM Kabupaten Kupang pernah menjangkau sembilan wilayah kelurahan di Kota Kupang.
Masalah menjadi lebih rumit ketika musim kemarau tiba. Debit sumber air menurun sementara kebutuhan masyarakat tetap. Untuk menjaga pemerataan, PDAM terpaksa menerapkan pola pelayanan bergilir. Wilayah yang sebelumnya mendapat pelayanan tiga kali seminggu dapat dikurangi menjadi dua kali agar wilayah yang lebih kesulitan air tetap memperoleh pasokan.
Ada alternatif pelayanan menggunakan mobil tangki menjadi salah satu solusi. Namun armada PDAM Kabupaten Kupang juga mengalami kerusakan berat akibat usia ekonomis. “Ya, terpikirkan juga pengadaan kendaraan baru namun belum menjadi prioritas karena anggaran lebih diarahkan pada pembenahan jaringan, genset dan mesin pompa. Tapi apa gunanya kita beli tangki lalu mengabaikan maintenance yang ada,” kata Johny.
