Terkait tawuran ini ia menekankan, benteng pertama yang jebol bukan di sekolah, melainkan di rumah (keluarga). Jadi penekanan pertama sebenarnya dari lingkungan keluarga, itu yang paling pertama. Keluarga adalah tempat pertama dalam memberikan pengawasan terhadap digital anak-anak.
“Dari perspektif politik budaya pendidikan kalau bagi saya, iya lingkungan keluarga sebenarnya tempat pertama. Dari tren penggunaan handphone sesuai tuntutan zaman, dari situ kan kita sudah bisa lihat toh musebabnya,” kata Neda.
Benteng kedua, lanjut dia,adalah sekolah. Neda meminta sekolah harus lebih ketat pengawasannya. Anak-anak pada saat jam pelajaran tidak boleh ada yang keluar. Untuk itu harus ada kerjasama yang baik antara sekolah dengan pemerintah, dalam hal ini Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).
Jadi harus ada kerjasama agar bisa menertibkan anak-anak di jam sekolah agar mereka tetap ada di dalam lingkungan sekolah. Jangan kemudian ada anak berada di luar sebelum berakhir jam sekolah. Jika ditemukan ada siswa keluyuran di jam pelajaran, ia meminta ada sanksi tegas namun tetap mendidik.
“Kalau menemukan ada anak berada di luar sekolah pada jam pelajaran maka harus ada sanksi tegas dari pihak sekolah. Iya ada sanksi tegas namun familiar yang sifatnya mendidik. Artinya ada sanksi tapi anak-anak tidak merasa tertekan lalu mereka jadinya takut ke sekolah”, tandasnya.
