Walikota Christian Widodo menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dari proses pembangunan. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri tanpa dukungan warga, sebagaimana masyarakat membutuhkan kebijakan dan pelayanan pemerintah untuk memperluas kesempatan hidup yang lebih baik.
Christian juga mengajak masyarakat mengubah cara pandang terhadap kebudayaan. Menurut dia, budaya tidak cukup dipahami sebagai warisan leluhur yang diterima begitu saja, tetapi harus dipandang sebagai titipan bagi generasi mendatang.
“Saya menitipkan harapan agar masyarakat senantiasa menjaga dan merawat budaya, yang bukan saja sebagai warisan dari leluhur, tetapi adalah pinjaman dari anak cucu,” ujarnya.
Pesan Walikota Christian Widodo tersebut mengandung tanggung jawab lintas generasi. Kebudayaan tidak akan bertahan hanya melalui seremoni tahunan, tetapi membutuhkan keterlibatan keluarga, komunitas, tokoh adat, generasi muda, dan pemerintah untuk memastikan nilai-nilai lokal tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Dalam pelaksanaan kegiatan di Naikoten 2, Christian mengapresiasi sinergi Camat Kota Raja, para lurah, pengurus RT/RW, tokoh masyarakat, tokoh agama, Babinsa, Bhabinkamtibmas, tokoh pemuda, dan panitia. Keterlibatan berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa pemeliharaan kebudayaan membutuhkan kerja bersama lintas kelompok dan lembaga.
Bahwa keberhasilan event budaya tidak hanya ditentukan oleh kemeriahan acara atau banyaknya warga yang hadir. Ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana kegiatan itu mampu menjaga tradisi, membuka peluang ekonomi bagi masyarakat, dan menumbuhkan karakter yang menghargai sesama.
Melalui penyelenggaraan event budaya di setiap kelurahan, Pemerintah Kota Kupang berupaya memperluas makna pembangunan hingga ke ruang kehidupan warga.
Dalam sambutannya Christian menyebut Kelurahan Naikoten 2 sebagai miniatur Kota Kupang karena masyarakatnya berasal dari beragam suku, etnis, dan agama yang hidup berdampingan.
