“Semua keahlian dan keterampilan yang ada, sepanjang menunjang pelayanan kesehatan, akan tetap kita beri ruang agar bisa berkarya dan membantu Dinas Kesehatan dalam menyehatkan masyarakat,” ujar Retnowati.
Pernyataan dr. Retnowati tersebut memperlihatkan pentingnya peran pemerintah sebagai pembina sekaligus pengawas. Bahwa pengembangan kesehatan tradisional tidak cukup hanya dengan membuka kesempatan bagi para praktisi, tetapi juga membutuhkan pendampingan agar masyarakat memperoleh layanan yang aman, berkualitas, dan sesuai kebutuhan.
Retnowati menegaskan, Dinas Kesehatan Kota Kupang akan terus memberikan motivasi, pembinaan, dan pendampingan kepada para pelaku serta penyelenggara layanan kesehatan tradisional. Upaya ini diharapkan mampu memperkuat keteraturan pelayanan sekaligus membangun sinergi dengan fasilitas kesehatan konvensional.
“Kami akan semakin memberikan motivasi, pembinaan, dan pendampingan terhadap semua upaya kesehatan tradisional. Apa yang mungkin belum bisa kita berikan melalui pelayanan kesehatan konvensional, diharapkan dapat didukung melalui pelayanan kesehatan tradisional yang sesuai ketentuan,” katanya.
Secara umum, pelayanan kesehatan tradisional mencakup upaya pemeliharaan kesehatan, perawatan, dan pencegahan penyakit melalui metode, ramuan, maupun keterampilan yang bersumber dari pengalaman, pengetahuan, dan kearifan lokal.
Dalam penerapannya, layanan tersebut dikenal dalam tiga kategori, yakni tradisional empiris, tradisional komplementer, dan tradisional integrasi.
Pelayanan tradisional empiris menggunakan metode, ramuan, dan keterampilan berdasarkan pengalaman serta pengetahuan yang diwariskan secara turun-temurun.
Ia mencontohkan, pemanfaatan jamu dan pijat tradisional oleh penyehat tradisional sesuai ketentuan. Sementara itu, pelayanan tradisional komplementer menggunakan metode yang memiliki dasar ilmiah untuk melengkapi pelayanan kesehatan konvensional, seperti akupunktur, akupresur, hipnoterapi, dan aromaterapi.
Adapun pelayanan tradisional integrasi memadukan pelayanan kesehatan konvensional dengan pelayanan kesehatan tradisional dalam satu fasilitas pelayanan kesehatan. Pendekatan ini membutuhkan koordinasi dan penerapan standar yang sesuai agar setiap metode yang digunakan dapat dipertanggungjawabkan berdasarkan kebutuhan serta kondisi pasien.
