Jadi Milik Bersama Anggota Semua Asset di Kopdit Pintu Air

Kupang, citranews.com – DALAM memberikan pelayanan kepada anggota koperasi ada tiga hal pokok yang perlu diperhatikan. Tiga hal dalam jenis koperasi simpan pinjam (KSP) atau kerap disebut koperasi kredit (CU-credit union) itu adalah menguntungkan, memuaskan, dan menyenangkan. Ketiga hal ini selalu menjadi terdepan dalam memberikan pelayanan bagi anggota Koperasi Pintu Air Maumere.

“Dalam memberikan pelayanan adalah wajib hukumnya untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada anggota. Karena maju mundurnya sebuah koperasi sangat bergantung pada anggota. Karena misi kita adalah maju bersama, untung bersama, dan senang bersama. Tidak bisa setelah kita maju bersama lalu keuntugan atau profit itu hanya dinikmati oleh pengurus apalagi pendiri koperasi,”jelas Jacobus Jano, Ketua Koperasi Pintu Air kepada wartawan di sela-sela RAT Pintu Air di Kupang, Sabtu 7 April 2018.

Namun masih banyak anggota koperasi yang mengeluhkan soal keuntungan atau profit dari badan usaha bersama itu. Bagi anggota koperasi keuntungan yang diterima hanya berupa sisa hasil usaha (SHU) yang diberikan  pada setiap akhir tahun buku. Itupun besar kecilnya jumlah dana SHU yang dibayarkan bergantung pada simpanan anggota yang bersangkutan. Sementara para pengurus setiap tahunnya gonta-ganti menikmati kendaraan dan fasilitas lainnya.

Ditengarai keuntungan koperasi merupakan akumulasi dari jumlah anggota dan besaran dana simpanan anggota itu disalahgunakan para pengurus atau pengelola dan pihak manajemen koperasi.

Terhadap fakta itu Jano membantah. Dia dengan tegas menyatakan, pengadaan fasilitas untuk kebutuhan pelayanan koperasi menjadi hal yang lumrah. Akan tetapi semua fasilitas dan sarana yang dimiliki Koperasi Pintu Air adalah asset milik bersama. Semua asset berupa kendaraan, gedung swalayan, dan beberapa lainnya yang rencana pengadaannya pada waktu-waktu yang akan datang, adalah milik anggota. Kekayaan yang ada adalah milik bersama.

“Semua asset berupa kendaraan, gedung swalayan, dan beberapa lainnya yang rencana pengadaannya pada waktu-waktu yang akan datang, adalah milik anggota. Dan kekayaan yang ada itu adalah milik bersama. Sebagai anggota koperasi semestinya, pertama harus ada rasa memiliki (self of belonging). Kedua ikut bertanggungjawab terhadap maju mundurnya usaha koperasi. Dan yang ketiga, menjaga harkat dan martabat lembaga. Itu berarti anggota koperasi menjadi pribadi-pribadi yang berkarakter dan dapat dipercaya (kredibel),”paparnya.

Menurut dia, awal berdirinya Koperasi Pintu Air hanya beranggotakan 50 orang. Sampai dengan tahun 2017 menjadi jaminan sampai dengan 150 juta. Ini adalah jaminan karakter atau harga diri kami-kami yang ada. Bukan jaminan barang.

Dengan angka pertumbuhan anggota sampai dengan tahun 2017 mencapai 173 ribu lebih ini punya karakter dan kepentingan yang berbeda-beda. Ada orang yang masuk anggota koperasi punya motivasi supaya ada kemudahan mendapatkan pinjaman. Tapi setelah mendapat pinjaman tidak juga membayar angsuran sesuai ketentuan. Atau istilahnya hanya ambil kesempatan dalam kesempitan. Akibatnya pihak manajemen harus punya tunggakan diatas 80 persen. Padahal sebelumnya yakni tahun 2016 hanya 3,65 persen NPL (non performing loan) atau tanpa tunggakan.  Padahal tahun-tahun sebelum-sebelumnya biasanya dibawah satu bahkan nol persen. +++ cnc1

 

Gambar : Jacobus Jano (kanan) saat menghadiri RAT Koperasi Pintu Air ke-22 di Kupang Provinsi NTT. (doc.citra-news.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *