FESTIVAL Ajang Memasyarakatkan Tanaman KELOR

Yohanis Tay : Wujud implementasi tekad pemerintah Provinsi NTT saat ini Dinas Pertanian Provinsi NTT menggelar Festival Kelor. Tujuannnya memotivasi masyarakat lebih giat lagi mengembangkan tanaman pangan yang kaya nutrisi dan gizi.

Kupang, citra-news.com –  GUBERNUR dan Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), VIKTOR Bungtilu Laiskodat dan JOSEF Ardianus Nae Soi, bertekad untuk menghijaukan bumi Flobamora dengan tanam kelor (moringa). Tekad ini diwujudnyatakan oleh dinas pertanian melalui Gerakan Revolusi Hujau (GRH).

“Sudah menjadi kewajiban kami selaku dinas teknis untuk melakukan pengembangan tanaman kelor secara massif di seluruh Provinsi NTT. Melalui Gerakan Revolusi Hijau masyarakat diajak untuk memanfaatkan setiap jengkal tanah miliknya untuk menanam tanaman kelor. Meskipun tanaman kelor ini bukan hal baru bagi masyarakat kita,”ungkap Kepala Dinas Pertanian Provinsi NTT, Ir. Yohanis Tay Ruba, M.Si di Kupang, Rabu, 21 November 2018.

Guna memicu masyarakat lebih giat menanam kelor, Dinas Pertanian Provinsi NTT tengah mempersiapkan 30 ribu anakan kelor yang siap tanam di wilayah Kabupaten Kupang. Demplot yang menjadi lokasi ‘Kebun Contoh Kelor’ ini, sebut Anis, di Oeteta, Oefafi, dan Pitani Kabupaten Kupang.

“Penanaman perdana kelor di Kabupaten Kupang akan dilakukan oleh bapak Viktor Lasikodat selaku Gubernur NTT. Namun sebelumnya didahului dengan kegiatan Festival Kelor. Di ajang Festival ini dipamerkan aneka produk dari bahan kelor. Dan di ajang festival inilah sekaligus memasyarakatkan Kelor,”jelas Anis.

Luasan area yang menjadi demplot Kelor di Kabupaten Kupang ini, lanjut Anis, di Desa Oeteta dan Pitani masing-masing seluas 3 hektar dan di Desa Oefafi seluas 2 hektar. Menurut rerncana pada Sabtu 24 September 2018 dilakukan penanaman perdana.

“Kami coba memadukan kegiatan antara penanaman perdana kelor di Kabupaten Kupang dengan Festival Kelor di Jalan El Tari Kota Kupang di hari Car Free Day tu. Saat Festival kelor menghadirkan 12 pelaku usaha kelor. Kemudian dilanjutkan dengan Temu Mitra dimana kita undang 20-an mitra kerja,”tandasnya.

Dia menambahkan, ada 3 (tiga) alasan utama dinas pertanian memasyarakatkan tanaman kelor.Pertama,  Tanaman kelor bermanfaat untuk penghijauan dan pelestarian lingkungan hidup. Kedua, Untuk konsumsi dan perbaikan gizi masyarakat. Dan ketiga, untuk peningkatan pendapatan petani.

Sebelumnya Anis menjelaskan, dalam  mengimplementasi dari Gerakan Revolusi Hijau (GRH) dilakukan dengan 2 (dua) pola. Pertama, Pola INTI dimana dilakukan secara intensif dengan tanaman monokultur. Artinya dalam satu kawasan dengan luasan misalnya 1 hektar hanya ditanami  Kelor sebanyak 1000 pohon dengan jarak tanam 1 x 1 meter. Tujuannnya untuk panen daun.

“Agar produk kelor ini benar-benar organic maka tanaman ini maka lahan pengembangan kelor haru bebas dari residu kimia. Karena itu kita lakukan pengembangan terbatas berkelanjutan. Dengan asumsi setiap bulan panen daun menghasilkan 10 ton bubuk daun kering per bulan. Untuk dapat menghasilkan 10 ton bubuk daun kelor kering membutuhkan luasan area tanaman kelor 40 – 60 hektar,”tandasnya.

Gambar : BIBIT KELOR di halaman kantor Dinas Pertanian Provinsi NTT di bilangan Jl. Polisi Militer Kupang, yang disiapkan untuk ditanami di demplot Kebun Contoh Kelor di Kabupaten Kupang pada awal musim hujan November 2018.

Foto : Doc. CNC/marthen radja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.