Wali Kota Kupang, CHRISTIAN Widodo saat Pawai Kupang Bertakbir Season III, Jumat (20/3/2026) di Bundaran Tirosa Kupang. Doc. CNC/prokopim setdakotakpg
Gubernur Melky : Perayaan ini adalah ruang perjumpaan sosial yang mempertemukan identitas, keyakinan, dan harapan dalam satu irama kebersamaan.
Citra News.Com, KUPNG – DI TENGAH gemuruh takbir yang mengalun memenuhi langit malam Kota Kupang, Pawai Kupang Bertakbir Season 3 tidak sekadar hadir sebagai perayaan rutin. Ia menjelma menjadi ruang refleksi—sebuah perjalanan batin kolektif yang menegaskan kembali jati diri kota yang dibangun di atas keberagaman.
Bagi Wali Kota Kupang, Christian Widodo, Pawai Takbir ini melampaui batas seremoni. Dalam pandangannya, lantunan takbir yang menggema bukan hanya suara religius, melainkan bahasa spiritual melalui simbol-simbol yang menghidupkan ruang-ruang kota dengan makna. Atau dalam ungkapan Personifikasi : Pawai Takbir sebagai jalan sunyi menuju Harmoni Kota
Walikota Christian Widodo memaknai peristiwa ini sebagai gerak (perjalanan, red) batin masyarakat—dari kesadaran personal menuju kesadaran sosial, dari ritual menuju relasi antar manusia. Di sinilah tafsir atas “perjalanan” Pawai Takbir sebagai “Jalan Sunyi” menemukan konteksnya menuju Harmoni Kota.
Pawai yang bergerak dari satu titik ke titik lain dalam Kota Kupang bukan hanya mobilitas fisik, tetapi simbol transformasi nilai perbedaan kedalam bingkai Harmoni dan Persaudaraan. Dan Takbir menjadi medium yang mengingatkan manusia pada kebesaran Tuhan sekaligus meneguhkan pentingnya kasih, penghormatan, dan solidaritas di tengah perbedaan.












