TNI Tambah KEKUATAN Menghardik Kapal Cina di Laut NATUNA

Apel siaga pasukan TNI di Perairan Ranai, Natuna-Kepri, Minggu 05 Januari 2019. Doc. CNC/tirto.id

Mulai Senin tangal 6 Januari 2020 TNI menambah kekuatan dengan menggerakan empat KRI. Penambahan kekuatan TNI ini dipicu kapal-kapal asing yang terus bersikukuh melakukan penangkapan ikan secara legal yang berjarak sekitar 130 mil dari perairan Ranai, Natuna.

Citra-News.Com, KEPRI – PANGLIMA KOMANDO Gabungan Wilayah Pertahanan (Pangkogabwilhan) I TNI Laksamana Madya TNI Yudo Margono menyatakan, hingga Minggu 05 Januari 2020) kapal nelayan Cina masih bertahan di Laut Natuna, Kepulauan Riau (Kepri).

Menurut Yudo, kapal-kapal asing tersebut bersikukuh melakukan penangkapan ikan secara legal yang berjarak sekitar 130 mil dari perairan Ranai, Natuna.

“Mereka didampingi dua kapal penjaga pantai dan satu kapal pengawas perikanan Cina,” kata Yudo Margono seperti dikutip Antara dalam konferensi pers di Pangkalan Udara TNI AL di Tanjungpinang, Kepri, Minggu 05 Januari 2020.

Yudo menegaskan bahwa TNI sudah melakukan gelar operasi dengan menurunkan dua unsur KRI guna mengusir kapal asing tersebut keluar dari Laut Natuna.

“Kami juga gencar berkomunikasi secara aktif dengan kapal penjaga pantai Cina agar dengan sendirinya segera meninggalkan perairan tersebut,” katanya.

Operasi ini, kata dia, tetap berlanjut dan tidak memiliki batas waktu sampai kapal Cina betul-betul angkat kaki dari wilayah maritim Indonesia. Pihaknya akan menambah kekuatan dengan menggerakan empat KRI mulai Senin 06 Januari 2020.

Sampai saat ini, kata dia, tindakan yang dilakukan TNI masih bersifat persuasif dengan memperingatkan kapal Cina bahwa mereka sudah menerobos sekaligus menangkap ikan secara ilegal di Laut Natuna. “TNI mengedepankan upaya damai dalam menangani persoalan ini,” katanya.

Menurut Yudo berdasarkan pantauan TNI pada saat ini yang terdeteksi memasuki Laut Natuna hanya kapal nelayan Cina. Sementara kapal nelayan dari negara lain, seperti Vietnam, tidak berani lagi masuk ke zona tersebut.

“Kapala nelayan Vietnam sudah banyak kami tangkap, jadi mereka tidak berani lagi,” tutur Yudo.

Polemik laut Natuna ini bermula ketika Cina dianggap mengklaim sepihak atas laut Natuna Utara melalui Nine Dash-Line yang dikeluarkan negara itu. Melalui peta itu, Cina mengakui Laut Natuna Utara sebagai bagian dari wilayahnya baik darat maupun perairan.

Pada Desember 2019, kapal penjaga laut Cina muncul di perbatasan perairan Natuna Utara. Posisi mereka belakangan diketahui masuk wilayah zona ekonomi eksekutif (EEZ) Indonesia secara ilegal. +++ tim CNC

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *