Iklan Baris :
Ingin Pasang Iklan, Klik disini - Ingin Koreksi, Klik Teks ini

INI Hal BARU Dari DEKRANASDA NTT Bikin ADPRD Komisi II TERCENGANG

CitraNews

Sementara Johanis Rumat mengatakan, kehadiran Komisi II di Dekranasda NTT untuk melihat dari dekat bagaimana perkembangannya. Karena hampir setiap tahun ada alokasi dana hibah ke Dinas Perindag NTT untuk Dekranasda.

“Menurut aturannya kan tidak boleh. Bahwa syaratnya untuk dana hibah hanya satu kali saja untuk lembaga usaha yang sama,” kata Hans Rumat.

Namun apa yang dikemukakan Hans Rumat itu, menurut Ketua Komisi II Kasimirus Kolo akan dibicarakan secara intenal komisi.

Kasimirus mengatakan, apa yang dikerjakan oleh Dekranasda telah mendukung pendapatan atau sumber baru PAD bagi Dinas Perindag Provinsi NTT.

Bahwa kegiatan Dekranasda, tambah Kasimirus, merupakan salah satu bidang di Dinas Perindag Provnsi NTT. Dan dianggarkan melalui APBD Provinsi.

Berbeda pendapat dengan Hans Rumat. Adalah Gabriel Manek, mantan Bupati Timor Tengan Utara ini malah meminta Banggar DPRD NTT untuk mengalokir sejumlah biaya dari APBD untuk operasional Dekranasda.

“Kita bisa lihat sendiri hasil kerja nyata dari Dekranasda NTT. Kita sudah mendengar penjelasan bahwa ada terobosan-terobosan yang dilakukan ibu Julie Laiskodat. Dalam hal pemberdayaan ekonomi melalui tenun ikat dan UMKM lainnya. Dan hasilnya luar biasa. Ada hal-hal baru yang dilakukan Dekranasda dan baru hari ini kita tahu. Kami bersyukur Dinas Perindag NTT melalui Dekranasda, ada pendapatan yangbbisa disumbangkan untuk peningkatan PAD,” kata Manek.

Kain Tenun Bolong-bolong

Hal baru yang dilihat oleh Komisi II adalah saat menyaksikan ibu Marika sedang menenun kain bolong-bolong untuk destar (selendang).

“Luar biasa ini tenunan modelnya bolong-bolong. Kerjanya pasti rumit sampai menghasilkan kain tenun bolong-bolong seperti ini,” ungkap Gabriel Manek.

Sambil geleng-geleng kepala sesepuh dari Parti Golkar ini mengatakan ia baru pertama kali melihat penenun yang begitu trampil hingga bisa jadi Kain Bolong-bolong.

Hebatnya lagi para penenun di showroom Dekranasda NTT tidak hanya trampil menenun satu jenis kain tenun dari satu kabupaten saja. Akan tetapi satu orang penenun mampu menenun untuk beberapa jenis kain dan motif dari daerah manapun di NTT.

Ibu Marika (kanan) penenun serba bisa tidak terkecuali Kain Tenun Bolong-bolong. Doc. marthen radja/citra-news.com

“Saya bisa menenun banyak jenis dan motif dari daerah manapun. Secara umum di NTT ini hanya ada empat jenis kain tenun dengan ciri khas motif yang berbeda-beda dari setiap kabupatennya. Ada jenis kain tenun Buna, Ikat, Sotis, dan Songket. Dan untuk semua ukuran sesuai minat pasar,” jelas ibu Marika yang mengaku berasal dari Kapan Kabupaten Timor Tengah Selatan.

Mendengar pengakuan ibu Marika ini mendecak kagum para anggota dewan yang terhormat. Dari ekspresi mereka jelas menunjukkan kalau mereka baru tahu proses menenun kain bolong-bolong.

Gegara kain tenun bolong-bolong Komisi II bardiri berlama-lama sambil bertanya-tanya hal teknis ke ibu Marika. Rasa heran, kagum dan semacamnya  berbaursatu. Dan hampir pasti mereka tercengang akan terobosan-terobosan cerdas nan unik yang dilakukan Dekranasda NTT.