Kota Kupang berdiri sejajar dengan kota-kota lain seperti Denpasar, Magelang, dan Fakfak – daerah yang dinilai berhasil merawat toleransi sebagai energi pembangunan. Di sinilah makna Kupang Modern menemukan bentuknya: kemajuan yang tidak meninggalkan siapa pun.
Direktur Utama Kompas TV, Rosianna Silalahi, menambahkan dimensi nilai dalam penghargaan tersebut. Piala Cita Negeri yang terbuat dari bahan daur ulang menjadi simbol kuat bahwa pembangunan sejati harus berpihak pada manusia dan lingkungan.
“Ini pesan moral. Kota modern harus berkelanjutan—secara sosial, ekologis, dan kemanusiaan,” ujarnya.
Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, menerima penghargaan itu dengan senyum penuh makna. Bagi dirinya, capaian ini bukan milik pemerintah semata, melainkan hasil gotong royong seluruh warga kota.
“Kota Kupang adalah rumah bagi semua. Damai dan inklusif bukan jargon, tapi sudah menjadi gaya hidup masyarakat kita,” ungkap Christian.
Pernyataan itu bukan retorika. Dibawah kepemimpinannya bersama Wakil Wali Kota Serena Francis, membangun dan menata Kota Kupang dengan pendekatan yang merangkul. Sejumlah program sosial inklusif digulirkan untuk memberdayakan komunitas minoritas, membuka ruang partisipasi publik, serta memastikan setiap kebijakan lahir dari dialog.
Kupang pun bergerak melampaui konsep smart city berbasis teknologi, menuju “smart society”—masyarakat cerdas yang menjaga toleransi, solidaritas, dan keadilan sosial
Ketika Pembangunan Menumbuhkan Harapan
