Cerita serupa datang dari Agustinus Bulu Kalli, warga RT 14. Seluruh atap rumahnya terbang diterpa angin. Ia dan lima anggota keluarganya hanya bisa berpelukan sambil menangis, mengira badai itu adalah Seroja yang kembali datang.
“Kejadiannya singkat tapi sangat menakutkan. Kami pikir ini Seroja kedua. Setelah pagi baru tahu tidak banyak rumah yang kena,” tuturnya.
Bantuan dan perhatian pemerintah, menurutnya, menjadi penghibur di tengah situasi sulit. “Terima kasih bapak Wali. Bantuan ini sangat berarti bagi kami,” katanya.
Di Manutapen, badai memang meninggalkan kerusakan. Namun kehadiran pemimpin yang datang cepat, menyapa dengan empati, dan membawa solusi, menyalakan kembali harapan.
Di tengah puing-puing rumah, warga menemukan satu keyakinan kalau mereka tidak sendiri menghadapi musibah ini. +++ marthen/*












