Data yang dipaparkan menunjukkan bahwa jumlah penduduk Kota Kupang pada tahun 2026 mencapai sekitar 482.734 jiwa. Angka tersebut menggambarkan dinamika pertumbuhan kota sekaligus menghadirkan berbagai tantangan pembangunan, seperti kemiskinan, kualitas layanan dasar, serta penguatan daya saing sumber daya manusia.
Andre menjelaskan bahwa forum konsultasi publik merupakan tahapan penting untuk menghimpun aspirasi masyarakat sebelum rancangan program pembangunan difinalisasi.
“Forum ini bertujuan menghimpun aspirasi dan harapan masyarakat terhadap tujuan, sasaran, dan program pembangunan daerah. Masukan dari berbagai pihak adalah kekuatan dan akan menjadi dasar penyempurnaan rancangan program pembangunan Kota Kupang,” jelasnya.
Suara dari Kampus hingga Komunitas
Diskusi yang berlangsung dalam forum tersebut memperlihatkan bagaimana berbagai isu pembangunan saling berkaitan.
Perwakilan akademisi dari Poltekkes Kemenkes Kupang menyoroti bahwa persoalan stunting, wasting, dan gizi buruk masih memiliki hubungan erat dengan kemiskinan. Karena itu, penanganannya tidak cukup hanya melalui pendekatan kesehatan semata.
Mereka mengusulkan penguatan kolaborasi antara pemerintah daerah dan lembaga pendidikan melalui riset serta program intervensi bersama untuk memperkuat kebijakan kesehatan masyarakat.
Selain itu, isu kekurangan tenaga kesehatan juga menjadi perhatian peserta. Salah satu usulan yang mengemuka adalah memperluas program beasiswa bagi calon tenaga kesehatan, agar kebutuhan layanan kesehatan di masa depan dapat terpenuhi.
Gagasan lain yang turut dibahas adalah pengembangan layanan telemedicine. Namun peserta mengingatkan bahwa keberhasilan layanan kesehatan digital sangat bergantung pada ketersediaan infrastruktur jaringan yang memadai.
Dari sektor pendidikan dan ketenagakerjaan, diskusi forum juga menyinggung persoalan meningkatnya pengangguran intelektual.
Beberapa peserta menilai, keterbatasan kemampuan bahasa asing masih menjadi kendala bagi lulusan perguruan tinggi untuk bersaing di pasar kerja internasional.
Karena itu, muncul gagasan pembentukan ruang belajar bahasa asing berbasis komunitas, yang dapat menjadi wadah bagi generasi muda untuk meningkatkan kapasitas dan membuka peluang kerja yang lebih luas.
