Iklan Baris :
Ingin Pasang Iklan, Klik disini - Ingin Koreksi, Klik Teks ini

Ketika POLITIK Tak Lagi BERISIK, Seruan HARMONI Digaungkan di Muscab PKB UNTUK Masa Depan RAKYAT

Reporter: Marthen RadjaEditor: Redaksi
CitraNews

Kika : Tampak Bupati Kupang YOSEF Lede dan Wali Kota Kupang CHRISTIAN Widodo hadiri Muscab DPC PKB di Kota Kupang, Selasa 21 April 2026). Doc. CNC/Prokopim setdakotakpg

Alo Ladi : Muscab dalam tafsir politik, menjadi ruang refleksi apakah politik sudah benar-benar menyentuh kebutuhan rakyat, atau masih berkutat pada kepentingan internal.

Citra News, Com, KUPANG – DI TENGAH wajah politik yang kerap dipersepsikan sebagai arena perebutan pengaruh dan kepentingan. Sebuah pesan berbeda justru digaungkan dalam Musyawarah Cabang (Muscab) Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kota Kupang dan Kabupaten Kupang.

Diketahui  kegiatan ini dihadiri perwakilan DPP PKB, Lalu Hadrian Irfani, anggota DPR RI, Usman Hussein, Bupati Kupang, Yosef Lede, Ketua DPW PKB NTT, Aloysius Malo Ladi, jajaran pengurus partai, Forkopimda, tokoh agama, serta para kader dan peserta musyawarah.

Di forum itu, politik tidak diposisikan sebagai panggung kompetisi semata, melainkan sebagai ruang harmoni dan kolaborasi untuk kepentingan rakyat.

Pesan tersebut menguat ketika Christian Widodo, Wali Kota Kupang hadir membuka perspektif baru tentang bagaimana politik seharusnya dijalankan.

Kehadirannya dalam Muscab yang berlangsung di Hotel Neo by Aston Kupang, Selasa (21/4/2026), bukan sekadar formalitas pemerintahan. Melainkan simbol penting bahwa pembangunan daerah membutuhkan kerja bersama lintas kekuatan politik.

Di hadapan para kader dan tokoh partai, ia menegaskan bahwa kontribusi partai politik bukan sekadar dalam kontestasi pemilu, tetapi dalam menyumbangkan ide, kritik, dan kerja nyata untuk masyarakat.

“Ini bukan sekadar menghadiri undangan. Ini bentuk penghormatan atas kontribusi nyata PKB bagi pembangunan Kota Kupang,” ujar Christian, menegaskan posisi partai politik sebagai mitra strategis pemerintah.

Dalam tafsir politik yang lebih luas, Muscab bukan sekadar agenda organisasi rutin. Musyawarah sebagai ruang untuk menyatukan perbedaan. Ia adalah cermin dari kualitas demokrasi lokal. Di sinilah gagasan bertemu, perbedaan diuji, dan arah masa depan dirumuskan.

Christian menempatkan musyawarah sebagai inti dari demokrasi yang sehat. Karena menurutnya, kekuatan politik sejati tidak diukur dari dominasi, tetapi dari kemampuan mendengar.

“Musyawarah bukan tentang siapa yang paling kuat, tetapi siapa yang paling mampu mendengar dan memperjuangkan kepentingan bersama,” tegasnya.

Pernyataan ini bukan sekadar retorika. Dalam konteks politik lokal yang terus berkembang, kemampuan menyatukan perbedaan menjadi faktor penting untuk menjaga stabilitas pembangunan.

Politik yang berisik dan penuh gesekan berpotensi memperlambat kemajuan, sementara politik yang harmonis membuka jalan bagi percepatan pembangunan yang berkelanjutan.