Pilihan tersebut menunjukkan bahwa persoalan pelayanan air bukan hanya tentang menambah armada, tetapi juga menjaga infrastruktur utama agar sistem tetap hidup.
Dia menjelaskan, berdasarkan data awal berdirinya PDAM Kabupaten Kupang, cakupan pelayanan tersebar pada 9 wilayah di seluruh kelurahan yang ada di Kota Kupang. Itu yang kami maksudkan eksisting artinya kami tidak menambah jaringan tapi kami hanya menaikkan jam pelayanan sesuai jadwal.
Seperti menghadapi musim kemarau dimana-mana pastinya berpengruh terhadap menurunnya debet air. Sehingga pada wilayah-wilayah tertentu kita evaluasi untuk kita optimalkan. Sudah pasti dengan strategi manajemen pelayanan bergilir. Jadi kita split layanan misalkan yang sebelumnya tiga kali menjadi dua kali seminggu. Sisanya kita gilir ke wilayah-wilayah yang susah air.
Terkait adanya komitmen pelayanan antara PDAM Kabupaten dan Kota Kupang, Johny mengakui secara formal belum dijalankan. Akan tetapi masing-masing pihak punya semangat yang sama untuk memasimalkan pelayanan pada konsumennya masing-masing. Dan tidak menutup kemungkinan adanya kerjasama apakah dalam bentuk Perseroda (Perseroan Daerah).
“Intinya selain kita bicara saling menguntungkan tapi pelaksanaan pelayanan kepada masyarakat (konsumen) itu harus maksimal. Karena menyangkut air adalah kebutuhan yang paling mendasar maka optimalisasi layanan terhadap konsumen adalah keutamaan”, tegasnya.
Potensi Besar
Ironisnya, Kabupaten Kupang sebenarnya memiliki potensi sumber air yang besar. Mata air Tarus dan Camplong, misalnya, memiliki peluang untuk memperluas pelayanan. Namun sumber air tersebut belum sepenuhnya dapat dimanfaatkan karena persoalan biaya pembangunan jaringan dan kendala teknis.
Harapan lain datang dari SPAM Raknamo. Saat ini sistem tersebut baru melayani sekitar 200 sambungan rumah (SR). Jika ditopang booster pump, mesin dan jaringan yang optimal, kapasitasnya diproyeksikan mampu melayani sekitar 7.000 SR dengan debit hingga 80 liter per detik.
Potensi itu dapat membuka akses pelayanan hingga Oesao, Oemasi, Fatuknutu dan wilayah sekitar Amabi Oefeto. Namun sekali lagi, sumber air tidak otomatis berarti air sampai ke rumah warga. Dibutuhkan jaringan, tekanan air, mesin, listrik dan biaya pemeliharaan yang berkelanjutan.
