Ia mengatakan, Festival ini bukan hanya perayaan sebuah tradisi. Hari ini kita merayakan identitas, kebersamaan dan keberagaman. Jauh daripada itu, kegiatan ini juga menggerakkan ekonomi kerakyatan.
Christian juga menyampaikan apresiasi kepada masyarakat, paguyuban, ASN dan seluruh elemen yang selama ini ikut mengambil bagian dalam pembangunan Kota Kupang.
Ia menegaskan berbagai penghargaan yang diraih pemerintah kota bukanlah keberhasilan pemerintah semata, melainkan buah dari kerja bersama.
Oleh karena kerja bersama, kolaborasi, dan saling sinegis ini telah memberi dampak yaitu Kota Kupang mendapat penghargaan secara nasional. Baru-baru ini Kota Kupang meraih Terbaik III kategori Akses dan Kualitas Layanan Kesehatan dengan insentif fiskal Rp1 miliar. Juga Terbaik II Program Tiga Juta Rumah dengan dukungan 250 unit BSPS, serta Kategori Terbaik I TP2DD kawasan Nusa Tenggara, Maluku dan Papua (Nusampua).
“Kalau hari ini Kota Kupang bercahaya, itu bukan karena satu obor yang dinyalakan di Kantor Wali Kota, tetapi karena lilin-lilin kecil yang dinyalakan di kantor-kantor dinas, kecamatan, kelurahan, paguyuban, keluarga, RT dan RW. Lilin-lilin kecil itulah yang membuat Kota Kupang bercahaya,” ungkapnya.

Kepada para peserta Koko Cici, Christian berpesan agar ajang tersebut tidak berhenti sebagai ruang untuk tampil, tetapi menjadi wadah pembentukan karakter, wawasan serta pemahaman budaya bagi generasi muda Kota Kupang.
Di penghujung festival, Christian kembali mengingatkan bahwa berakhirnya pesta bukan berarti berakhir pula semangat kebersamaan.
Ia berharap, setelah lampion dipadamkan dan festival ini berakhir, semangat persaudaraan kita harus tetap menyala. Persatuan itu bukan berarti menjadi sama, tetapi mampu berjalan bersama meskipun berbeda.













