Menurutnya, pembangunan manusia tidak cukup hanya mengandalkan pendidikan formal, tetapi juga membutuhkan penguatan iman, karakter, moralitas, dan kepedulian terhadap sesama.
“Jalan, jembatan, dan gedung memang penting. Tetapi kita juga harus membangun manusianya. Kita membutuhkan masyarakat yang sehat, cerdas, berkarakter, saling menghargai, dan mampu hidup dalam toleransi,” tegasnya.
Mencermati pernyataan Walikota Christian Widodo tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan Kota Kupang tidak semata-mata ditempatkan sebagai agenda pembangunan infrastruktur. Pemerintah juga membutuhkan kekuatan keluarga, gereja, dan seluruh elemen masyarakat untuk membangun fondasi sosial yang kokoh. Dalam konteks ini, rumah ibadah memiliki ruang kontribusi melalui pendidikan iman, pembinaan generasi muda, pelayanan sosial, dan penguatan toleransi.
Walikotq Christian juga menyinggung kebijakan efisiensi anggaran yang sedang dijalankan pemerintah. Ia menegaskan bahwa penghematan bukan berarti menghentikan pembangunan, melainkan mengatur prioritas agar setiap rupiah anggaran daerah memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat.
Sebagai contoh, ia menyebut keputusan untuk tidak mengadakan mobil dinas baru bagi dirinya maupun Wakil Wali Kota. Langkah tersebut, menurutnya, merupakan bagian dari upaya mengendalikan belanja pemerintah agar ruang fiskal dapat diarahkan kepada kebutuhan yang lebih mendesak, termasuk dukungan bagi rumah ibadah lintas agama dan program beasiswa.
Terkait pembangunan Pastori II GMIT Tiberias TDM, Walikota Christian mempersilahkan pihak jemaat mengajukan proposal kepada Pemerintah Kota Kupang untuk dipertimbangkan dalam dukungan anggaran tahun 2027. Namun, realisasi bantuan tetap mengikuti mekanisme, ketentuan peraturan perundang-undangan, serta kemampuan keuangan daerah.
Pada kesempatan itu, Christian menyampaikan proficiat atas tiga momentum penting Jemaat GMIT Tiberias TDM. Ia memaknai pentahbisan gedung gereja, peletakan batu pertama Pastori II, dan peluncuran buku sejarah jemaat sebagai buah perjalanan panjang yang dibangun melalui doa, pengorbanan, iman, dan kebersamaan.
“Rumah ibadah ini tidak hanya dibangun dari beton, semen, pasir, dan besi, tetapi juga dibangun oleh iman, kasih, dan harapan. Hari ini kita bukan hanya meresmikan sebuah gedung, tetapi juga meresmikan rumah pengharapan, tempat mereka yang sakit dikuatkan dan yang lemah memperoleh kekuatan,” ungkapnya.
